Jumat, 15 November 2013

Yesus


 
Nama dan gelar Putra Allah setelah ia diurapi sewaktu berada di bumi.
Nama Yesus (Yn., I·e·sous) sama dengan nama Ibrani Yesyua (atau, bentuk yang lebih lengkapnya, Yehosyua), yang artinya ”Yehuwa Adalah Keselamatan”. Nama itu sendiri tidak istimewa, karena pada masa itu banyak orang memiliki nama tersebut. Itulah sebabnya, sering kali ada penambahan keterangan seperti ”Yesus, orang Nazaret”. (Mrk 10:47; Kis 2:22) Kristus berasal dari kata Yunani Khri·stos, padanan kata Ibrani Ma·syiakh (Mesias), yang artinya ”Orang yang Diurapi”. Sekalipun ungkapan ”orang yang diurapi” cocok untuk diterapkan pada orang-orang sebelum Yesus, seperti Musa, Harun, dan Daud (Ibr 11:24-26; Im 4:3; 8:12; 2Sam 22:51), kedudukan, jabatan, atau dinas yang mereka pegang setelah diurapi hanyalah gambaran pendahuluan dari kedudukan, jabatan, dan dinas yang lebih unggul yang dimiliki Yesus Kristus. Oleh karena itu, dalam arti yang paling unggul dan unik Yesus adalah ”Kristus, Putra dari Allah yang hidup”.—Mat 16:16; lihat KRISTUS; MESIAS.

Eksistensi Pramanusia. Kehidupan pribadi yang kemudian dikenal sebagai Yesus Kristus tidaklah berawal di bumi. Ia sendiri berbicara tentang kehidupan pramanusianya di surga. (Yoh 3:13; 6:38, 62; 8:23, 42, 58) Yohanes 1:1, 2 menyebutkan nama untuk pribadi yang menjadi Yesus ini sewaktu ia berada di surga, ”Pada mulanya Firman [Yn., Logos] itu ada, dan Firman itu bersama Allah, dan Firman itu adalah suatu allah [”ilahi”, AT; Mo; atau ”adalah pribadi ilahi”, Böhmer; Stage (keduanya dalam bhs. Jerman)]. Pribadi ini pada mulanya bersama Allah.” Karena Yehuwa itu kekal dan tidak mempunyai permulaan (Mz 90:2; Pny 15:3), pernyataan bahwa Firman itu bersama Allah sejak ’awal mula’ dalam ayat tersebut pastilah memaksudkan awal mula pekerjaan penciptaan Yehuwa. Hal itu diteguhkan oleh ayat-ayat lain yang mengidentifikasi Yesus sebagai ”yang sulung dari antara semua ciptaan”, ”awal dari ciptaan Allah”. (Kol 1:15; Pny 1:1; 3:14) Oleh karena itu, Tulisan-Tulisan Kudus mengidentifikasi Firman itu (Yesus dalam eksistensi pramanusianya) sebagai ciptaan pertama Allah, Putra sulung-Nya.



Jelas dari pernyataan-pernyataan Yesus sendiri bahwa Yehuwa benar-benar adalah Bapak atau Pemberi Kehidupan sang Putra sulung dan, oleh karena itu, sang Putra sesungguhnya adalah makhluk ciptaan Allah. Ia menyebut Allah sebagai Sumber kehidupannya, dengan mengatakan, ”Aku hidup oleh karena Bapak.” Menurut konteksnya, kata-kata ini berarti bahwa kehidupannya ada karena Bapaknya, seperti orang-orang yang berkematian akan memperoleh kehidupan karena iman mereka pada korban tebusan Yesus.—Yoh 6:56, 57.

Kalau perkiraan para ilmuwan zaman modern tentang umur alam semesta ini mendekati yang sesungguhnya, keberadaan Yesus sebagai makhluk roh sudah dimulai ribuan juta tahun sebelum manusia pertama diciptakan. (Bdk. Mi 5:2.) Putra rohani yang sulung ini digunakan oleh Bapaknya dalam menciptakan semua hal lain (Yoh 1:3; Kol 1:16, 17), termasuk jutaan putra rohani lainnya dalam keluarga surgawi Allah Yehuwa (Dan 7:9, 10; Pny 5:11), dan juga alam semesta serta makhluk-makhluk yang mula-mula diciptakan di dalamnya. Maka masuk akal bahwa kepada Putra sulung inilah Yehuwa berfirman, ”Mari kita membuat manusia menurut gambar kita, sesuai dengan rupa kita.” (Kej 1:26) Semua hal lain yang diciptakan tidak hanya diciptakan ”melalui dia” tetapi juga ”untuk dia”, sebagai Putra Sulung Allah dan ”ahli waris segala perkara”.—Kol 1:16; Ibr 1:2.

Bukan rekan Pencipta. Namun, sekalipun sang Putra ambil bagian dalam pekerjaan penciptaan, ia tidak menjadi rekan Pencipta bersama Bapaknya. Kuasa untuk menciptakan berasal dari Allah melalui roh kudus, atau tenaga aktif-Nya. (Kej 1:2; Mz 33:6) Dan, karena Yehuwa adalah Sumber segala kehidupan, semua ciptaan bernyawa, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, berutang kehidupan kepada-Nya. (Mz 36:9) Jadi, sang Putra memang bukan rekan Pencipta, melainkan ia adalah wakil atau sarana yang digunakan Yehuwa, sang Pencipta, dalam pekerjaan-Nya. Yesus sendiri mengakui Allah sebagai Pencipta segala sesuatu; fakta itu juga diakui dalam seluruh Alkitab.—Mat 19:4-6; lihat CIPTAAN; PENCIPTAAN.
Personifikasi hikmat. Apa yang dicatat dalam Alkitab mengenai Firman itu sangat cocok dengan uraian di Amsal 8:22-31. Dalam ayat-ayat tersebut hikmat dipersonifikasikan, digambarkan seolah-olah dapat berbicara dan bertindak. (Ams 8:1) Banyak penulis yang mengaku Kristen pada abad-abad awal Tarikh Masehi menganggap bagian ini menggambarkan Putra Allah secara kiasan dalam keadaan pramanusianya. Mengingat ayat-ayat yang telah dibahas, tidak dapat disangkal bahwa sang Putra ’dihasilkan’ oleh Yehuwa ”sebagai permulaan pekerjaannya, yang paling awal dari hasil-hasil pekerjaannya di masa lampau”, dan bahwa sang Putra ada ”di sisi [Yehuwa] sebagai pekerja ahli” pada waktu bumi diciptakan, seperti diuraikan dalam ayat-ayat di buku Amsal itu. Memang, dalam bahasa Ibrani, yang menggunakan gender pada kata bendanya (seperti halnya banyak bahasa lain), kata untuk ”hikmat” selalu dalam bentuk feminin. Hal ini tetap berlaku sekalipun hikmat dipersonifikasikan, namun hal ini tidak menutup kemungkinan digunakannya hikmat sebagai kiasan yang menggambarkan Putra sulung Allah. Kata Yunani untuk ”kasih” dalam ungkapan ”Allah adalah kasih” (1Yoh 4:8) juga dalam bentuk feminin namun hal ini tidak membuat Allah menjadi feminin. Salomo, penulis utama buku Amsal (Ams 1:1), menggunakan gelar qo·heleth (penghimpun) untuk dirinya (Pkh 1:1) dan kata itu juga dalam bentuk feminin.



Hikmat baru nyata jika diungkapkan dengan cara tertentu. Hikmat Allah sendiri diungkapkan dalam penciptaan (Ams 3:19, 20) namun melalui Putra-Nya. (Bdk. 1Kor 8:6.) Demikian pula, maksud-tujuan Allah yang bijaksana sehubungan dengan manusia dibuat nyata melalui, dan disimpulkan dalam, Putra-Nya, Yesus Kristus. Oleh karena itu, sang rasul dapat mengatakan bahwa Kristus adalah ”kuasa Allah dan hikmat Allah” dan bahwa Kristus Yesus ”bagi kita telah menjadi hikmat yang berasal dari Allah, juga keadilbenaran dan sarana untuk penyucian dan untuk memperoleh kelepasan melalui tebusan”.—1Kor 1:24, 30; bdk. 1Kor 2:7, 8; Ams 8:1, 10, 18-21.

Bagaimana ia dapat disebut ”satu-satunya Putra yang diperanakkan”. Fakta bahwa Yesus disebut sebagai ”satu-satunya Putra yang diperanakkan” (Yoh 1:14; 3:16, 18; 1Yoh 4:9) tidak berarti bahwa makhluk-makhluk roh lain yang diciptakan bukan putra Allah, karena mereka juga disebut putra. (Kej 6:2, 4; Ayb 1:6; 2:1; 38:4-7) Akan tetapi, mengingat bahwa dialah satu-satunya yang secara langsung diciptakan oleh Bapaknya, Putra sulung ini unik, berbeda dengan semua putra Allah lainnya, yang diciptakan atau diperanakkan oleh Yehuwa melalui Putra sulung itu. Maka ”Firman itu” adalah ”satu-satunya Putra yang diperanakkan” Yehuwa dalam arti khusus, sebagaimana Ishak adalah ”putra satu-satunya yang diperanakkan” Abraham dalam arti khusus (Abraham sudah mempunyai seorang putra lain tetapi bukan melalui Sara, istrinya).—Ibr 11:17; Kej 16:15.

Alasan disebut ”Firman itu”. Nama (atau, mungkin, gelar) ”Firman itu” (Yoh 1:1) agaknya menunjukkan fungsi yang dijalankan Putra sulung Allah setelah makhluk-makhluk cerdas lainnya diciptakan. Ungkapan serupa terdapat di Keluaran 4:16; di ayat itu Yehuwa berfirman kepada Musa mengenai Harun, saudaranya, ”Ia harus berbicara untukmu kepada bangsa itu; dan ia akan menjadi mulut bagimu, dan engkau akan menjadi Allah baginya.” Sebagai juru bicara untuk wakil utama Allah di bumi, Harun menjadi ”mulut” bagi Musa. Demikian pula halnya dengan Firman itu, atau Logos, yang menjadi Yesus Kristus. Pastilah Yehuwa menggunakan Putra-Nya untuk menyampaikan informasi dan instruksi kepada pribadi-pribadi lain dalam keluarga putra-putra rohani-Nya, seperti Ia menggunakan Putra ini untuk menyampaikan pesan-Nya kepada manusia di bumi. Untuk menunjukkan bahwa dia adalah Firman, atau Juru Bicara, Allah, Yesus mengatakan kepada orang-orang Yahudi yang mendengarkannya, ”Apa yang aku ajarkan bukanlah milikku, melainkan milik dia yang telah mengutus aku. Jika seseorang berhasrat melakukan kehendak Dia, ia akan mengetahui sehubungan dengan pengajaran itu apakah itu berasal dari Allah atau aku berbicara dari diriku sendiri.”—Yoh 7:16, 17; bdk. Yoh 12:50; 18:37.

Tidak diragukan, dalam banyak peristiwa selama eksistensi pramanusianya sebagai Firman, Yesus bertindak sebagai Juru Bicara Yehuwa bagi orang-orang di bumi. Kendati dalam ayat-ayat tertentu disebutkan bahwa Yehuwa seolah-olah berbicara langsung kepada manusia, ayat-ayat lain memperjelas bahwa Ia melakukannya melalui malaikat sebagai wakil-Nya. (Bdk. Kel 3:2-4 dengan Kis 7:30, 35; juga Kej 16:7-11, 13; 22:1, 11, 12, 15-18.) Karena itu, masuk akal jika dalam kebanyakan kasus seperti itu Allah berbicara melalui sang Firman. Kemungkinan besar Ia melakukan hal tersebut di Eden, sebab pada dua dari tiga peristiwa yang menyebutkan bahwa Allah berbicara di sana, catatan itu secara spesifik memperlihatkan adanya pribadi lain bersama-Nya, yang tentunya adalah Putra-Nya. (Kej 1:26-30; 2:16, 17; 3:8-19, 22) Oleh karena itu, malaikat yang menuntun Israel melalui padang belantara dan yang suaranya harus ditaati dengan sungguh-sungguh oleh orang Israel karena ’nama Yehuwa ada di dalam dia’ bisa jadi adalah Putra Allah, sang Firman.—Kel 23:20-23; bdk. Yos 5:13-15.

Tidak berarti bahwa Firman adalah satu-satunya malaikat yang mewakili Yehuwa sebagai juru bicara. Pernyataan terilham di Kisah 7:53, Galatia 3:19, dan Ibrani 2:2, 3 membuat jelas bahwa perjanjian Hukum disampaikan kepada Musa melalui malaikat-malaikat yang adalah putra-putra Allah yang bukan Anak Sulung-Nya.

Setelah kembali kepada kemuliaan surgawinya, Yesus tetap menyandang nama ”Firman Allah”.—Pny 19:13, 16.

Mengapa beberapa terjemahan Alkitab menyebut Yesus ”Allah”, sedangkan terjemahan-terjemahan lain menyebutnya ”suatu allah”?

Beberapa terjemahan mengalihbahasakan Yohanes 1:1 sebagai berikut, ”Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Secara harfiah teks Yunaninya berbunyi, ”Pada mulanya adalah firman itu, dan firman itu adalah bersama sang allah, dan allah adalah firman itu.” Penerjemahnya harus membubuhkan huruf besar sesuai dengan tuntutan bahasa tujuan. Jelaslah, huruf besar patut digunakan pada kata ”Allah” dalam menerjemahkan ”sang allah”, karena kata ini mengidentifikasi Allah Yang Mahakuasa yang ada bersama Firman itu. Akan tetapi, penggunaan huruf besar untuk kata ”allah” yang kedua tidak bisa dibenarkan karena tidak mempunyai alasan yang sama.

Terjemahan Dunia Baru mengalihbahasakan ayat ini, ”Pada mulanya Firman itu ada, dan Firman itu bersama Allah, dan Firman itu adalah suatu allah.” Memang, dalam teks Yunani aslinya tidak ada kata sandang tak tentu (yang sama dengan ”suatu”). Tetapi tidak berarti bahwa kata sandang tersebut tidak boleh digunakan dalam terjemahan hanya karena Koine, atau bahasa Yunani sehari-hari, tidak memiliki kata sandang tak tentu. Oleh karena itu, di seluruh Kitab-Kitab Yunani Kristen, para penerjemah harus menggunakan atau tidak menggunakan kata sandang tak tentu sesuai dengan pengertian mereka mengenai arti ayat tersebut. Semua terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris menggunakan ratusan kata sandang tak tentu; tetapi kebanyakan terjemahan tidak menggunakannya di Yohanes 1:1. Sekalipun demikian, penggunaannya dalam terjemahan ayat ini mempunyai dasar yang kuat.
Pertama-tama, perlu diperhatikan bahwa ayat itu sendiri memperlihatkan bahwa Firman itu ”bersama Allah”, jadi tidak mungkin adalah Allah, yaitu Allah Yang Mahakuasa. (Perhatikan juga ay. 2, yang tidak akan diperlukan seandainya ay. 1 memang menunjukkan bahwa Firman itu adalah Allah.) Selain itu, kata untuk ”allah” (Yn., the·os) yang muncul untuk kedua kalinya dalam ayat tersebut jelas-jelas tidak disertai kata sandang tentu (Yn., ho). Mengenai hal ini, Ernst Haenchen, dalam komentarnya tentang Injil Yohanes (pasal 1-6), menyatakan, ”dalam periode itu, [the·os] dan [ho the·os] (’allah, ilahi’ dan ’Allah’) bukanlah hal yang sama. . . . Sebenarnya, bagi si . . . Evangelis, hanya sang Bapak yang adalah ’Allah’ ([ho the·os]; bdk. 17:3); ’sang Putra’ lebih rendah daripada-Nya (bdk. 14:28). Tetapi hal ini hanya tersirat karena yang ditandaskan dalam ayat-ayat itu adalah kedekatan antara pribadi yang satu dengan yang lain . . . . Dalam monoteisme Yahudi dan Kristen, orang bisa berbicara tentang pribadi-pribadi ilahi yang ada di samping dan di bawah Allah tetapi tidak sama dengan Dia. Flp 2:6-10 membuktikan hal itu. Dalam ayat-ayat itu Paulus menggambarkan suatu pribadi ilahi demikian, yang belakangan menjadi manusia Yesus Kristus . . . Jadi, baik di Filipi maupun di Yohanes 1:1 persoalannya bukanlah hubungan dialektik antara dua dalam satu, melainkan persatuan pribadi antara dua individu.”—John 1, diterjemahkan oleh R. W. Funk, 1984, hlm. 109, 110.

Setelah menerjemahkan Yohanes 1:1c menjadi ”dan ilahi (termasuk dalam kategori keilahian) adalah Firman itu”, Haenchen selanjutnya menyatakan, ”Dalam kasus ini, kata kerja ’adalah’ ([en]) hanya menyatakan kepredikatan. Dan sesuai dengan itu, kata benda yang menjadi predikatnya harus lebih dicermati: [the·os] tidak sama dengan [ho the·os] (’ilahi’ tidak sama dengan ’Allah’).” (hlm. 110, 111) Sewaktu mengupas pokok ini lebih dalam, Philip B. Harner mengemukakan bahwa dalam konstruksi tata bahasa di Yohanes 1:1, kata kerjanya didahului oleh predikat anarthrous, yaitu kata benda yang berfungsi sebagai predikat tanpa kata sandang tentu [Yn., ho], dan konstruksi ini khususnya mengandung arti kualitatif [menunjukkan sifat] dan menunjukkan bahwa ”logos itu memiliki sifat theos”. Selanjutnya ia menyatakan, ”Di Yohanes 1:1, menurut saya, kekuatan kualitatif predikatnya begitu menonjol sehingga kata benda [the·os] tidak dapat dianggap sebagai nomina dengan kata sandang tentu.” (Journal of Biblical Literature, 1973, hlm. 85, 87) Oleh karena itu, para penerjemah lain, juga karena mengakui bahwa istilah Yunani itu memiliki kekuatan kualitatif dan menggambarkan sifat Firman itu, menerjemahkan ungkapan itu, ”Firman itu bersifat ilahi.”—AT; Sd; bdk. Mo; lihat Rbi8, Apendiks 6A.



Kitab-Kitab Ibrani secara konsisten dan gamblang memperlihatkan bahwa hanya ada satu Allah Yang Mahakuasa, sang Pencipta segala sesuatu dan Yang Mahatinggi, yang nama-Nya adalah Yehuwa. (Kej 17:1; Yes 45:18; Mz 83:18) Karena itulah Musa dapat mengatakan kepada bangsa Israel, ”Yehuwa adalah Allah kita; Yehuwa itu esa. Engkau harus mengasihi Yehuwa, Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan segenap tenaga hidupmu.” (Ul 6:4, 5) Kitab-Kitab Yunani Kristen tidak bertentangan dengan ajaran itu, yang telah diterima dan diyakini oleh hamba-hamba Allah selama ribuan tahun, malah mendukungnya. (Mrk 12:29; Rm 3:29, 30; 1Kor 8:6; Ef 4:4-6; 1Tim 2:5) Yesus Kristus sendiri mengatakan, ”Bapak lebih besar daripada aku” dan menyapa sang Bapak sebagai Allahnya, ”satu-satunya Allah yang benar”. (Yoh 14:28; 17:3; 20:17; Mrk 15:34; Pny 1:1; 3:12) Pada banyak kesempatan, Yesus menyatakan bahwa ia lebih rendah daripada Bapaknya dan bahwa ia tunduk kepada-Nya. (Mat 4:9, 10; 20:23; Luk 22:41, 42; Yoh 5:19; 8:42; 13:16) Bahkan setelah Yesus naik ke surga, para rasulnya terus memberikan gambaran yang sama.—1Kor 11:3; 15:20, 24-28; 1Ptr 1:3; 1Yoh 2:1; 4:9, 10.

Fakta-fakta tersebut sangat meneguhkan terjemahan yang berbunyi, ”Firman itu adalah suatu allah” di Yohanes 1:1. Posisi sang Firman yang unggul di antara makhluk-makhluk ciptaan Allah sebagai Putra sulung, yaitu pribadi yang melaluinya Allah menciptakan segala sesuatu, dan sebagai Juru Bicara Allah, memberikan dasar yang kuat baginya untuk disebut ”suatu allah” atau pribadi yang perkasa. Nubuat tentang Mesias di Yesaya 9:6 memberi tahu di muka bahwa ia akan disebut ”Allah yang Perkasa”, sekalipun bukan Allah Yang Mahakuasa, dan bahwa ia akan menjadi ”Bapak yang Kekal” bagi semua orang yang mendapat hak istimewa untuk hidup sebagai rakyatnya. Gairah Bapaknya sendiri, ”Yehuwa yang berbala tentara”, akan melaksanakan hal itu. (Yes 9:7) Tentu saja, jika Musuh Allah, Setan si Iblis, disebut suatu ”allah” (2Kor 4:4) karena dominasinya atas manusia dan hantu-hantu (1Yoh 5:19; Luk 11:14-18), jauh lebih beralasan dan lebih layak bagi Putra sulung Allah untuk disebut ”suatu allah”, ”satu-satunya allah yang diperanakkan” sebagaimana disebutkan dalam manuskrip yang paling dapat diandalkan untuk Yohanes 1:18.

Sewaktu para penentang menuduh Yesus ’menjadikan dirinya suatu allah’, ia menjawab, ”Bukankah tertulis di dalam Hukummu, ’Aku berfirman, ”Kamu adalah allah-allah”’? Jika mereka, yang kepadanya firman Allah datang, ia sebut ’allah-allah’, padahal Tulisan-Tulisan Kudus tidak dapat dibatalkan, apakah kamu mengatakan kepadaku yang disucikan dan diutus Bapak ke dunia, ’Engkau menghujah’, karena aku mengatakan, aku Putra Allah?” (Yoh 10:31-37) Pada waktu itu Yesus mengutip dari Mazmur 82, yang menyebut hakim-hakim manusia sebagai ”allah-allah”, padahal mereka dikecam Allah karena tidak melaksanakan keadilan. (Mz 82:1, 2, 6, 7) Jadi, Yesus memperlihatkan betapa tidak masuk akal untuk menuduhnya mengucapkan hujah karena ia menyatakan bahwa ia, bukan Allah, melainkan Putra Allah.

Tuduhan hujah ini muncul sebagai akibat pernyataan Yesus, ”Aku dan Bapak adalah satu.” (Yoh 10:30) Kata-kata ini tidak memaksudkan bahwa Yesus mengaku sebagai sang Bapak atau sebagai Allah, yang jelas dari jawabannya, yang sebagian telah dibahas. Kesatuan yang Yesus maksudkan harus dipahami selaras dengan konteks pernyataannya. Ia sedang berbicara mengenai pekerjaan dan kepeduliannya kepada ’domba-domba’ yang akan mengikuti dia. Pekerjaannya, dan juga perkataannya, mempertunjukkan adanya persatuan, bukan perpecahan dan ketidakharmonisan, antara dia dan Bapaknya, yaitu pokok yang selanjutnya ditandaskan dalam jawabannya. (Yoh 10:25, 26, 37, 38; bdk. Yoh 4:34; 5:30; 6:38-40; 8:16-18.) Mengenai ’domba-dombanya’, ia dan Bapaknya juga bersatu untuk melindungi orang-orang yang seperti domba itu dan menuntun mereka kepada kehidupan abadi. (Yoh 10:27-29; bdk. Yeh 34:23, 24.) Doa Yesus demi persatuan semua muridnya, termasuk murid-muridnya di kemudian hari, memperlihatkan bahwa kesatuan, atau persatuan, antara Yesus dan Bapaknya bukanlah dalam identitas pribadi melainkan dalam tujuan dan tindakan. Dengan cara inilah ”semua [murid-murid Yesus] dapat menjadi satu”, sebagaimana ia dan Bapaknya adalah satu.—Yoh 17:20-23.

Selaras dengan hal itu, sewaktu menanggapi pertanyaan Tomas, Yesus mengatakan, ”Jika kamu sekalian telah mengenal aku, kamu juga akan mengenal Bapakku; sejak saat ini kamu mengenal dia dan telah melihat dia,” dan sewaktu menjawab pertanyaan Filipus, Yesus menambahkan, ”Ia yang telah melihat aku telah melihat Bapak juga.” (Yoh 14:5-9) Sekali lagi, penjelasan Yesus selanjutnya memperlihatkan bahwa hal ini bisa terjadi karena ia dengan setia mewakili Bapaknya, menyampaikan perkataan sang Bapak, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan sang Bapak. (Yoh 14:10, 11; bdk. Yoh 12:28, 44-49.) Pada kesempatan yang sama itulah, yaitu pada malam kematiannya, Yesus mengatakan kepada murid-murid, ”Bapak lebih besar daripada aku.”—Yoh 14:28.

Perihal murid-murid ”melihat” Bapak pada diri Yesus dapat juga dipahami dengan bantuan contoh-contoh lain dalam Alkitab. Misalnya, Yakub mengatakan kepada Esau, ”Aku telah melihat mukamu seolah-olah melihat muka Allah, karena engkau menerimaku dengan senang.” Ia mengatakan hal itu karena reaksi Esau sesuai dengan doa Yakub kepada Allah. (Kej 33:9-11; 32:9-12) Setelah pertanyaan-pertanyaan Allah kepada Ayub dari dalam badai memperjelas pengertian pria itu, Ayub mengatakan, ”Dari kabar angin aku mendengar tentang engkau, tetapi sekarang mataku sendiri melihat engkau.” (Ayb 38:1; 42:5; lihat juga Hak 13:21, 22.) ’Mata hatinya’ telah diterangi. (Bdk. Ef 1:18.) Pernyataan Yesus tentang melihat sang Bapak perlu dipahami secara kiasan dan bukan harfiah; hal ini terbukti dari pernyataannya sendiri di Yohanes 6:45 dan juga dari fakta bahwa Yohanes, lama setelah kematian Yesus, menulis, ”Tidak seorang pun pernah melihat Allah; satu-satunya allah yang diperanakkan yang berada pada posisi dada Bapak, dia itulah yang menjelaskan mengenai dirinya.”—Yoh 1:18; 1Yoh 4:12.

Apa yang Tomas maksudkan ketika ia mengatakan kepada Yesus, ”Tuanku dan Allahku”?
Ketika Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan rasul-rasul lainnya, yang menyingkirkan keragu-raguan Tomas akan kebangkitan Yesus, Tomas yang kini telah diyakinkan berseru kepada Yesus, ”Tuanku dan Allahku [harfiah, ”Tuan milikku dan Allah (ho The·os) milikku”]!” (Yoh 20:24-29) Menurut sejumlah pakar, seruan ini adalah suatu ungkapan perasaan takjub yang disampaikan kepada Yesus namun sebenarnya ditujukan kepada Allah, Bapaknya. Akan tetapi, ada yang berpendapat bahwa dalam bahasa aslinya, bahasa Yunani, kata-kata tersebut harus dipandang sebagai ucapan yang ditujukan kepada Yesus. Sekalipun memang demikian, pernyataan ”Tuanku dan Allahku” tetap harus selaras dengan ayat-ayat lain dalam Alkitab terilham. Karena catatan itu memperlihatkan bahwa Yesus sebelumnya telah memberikan pesan kepada murid-muridnya, ”Aku akan naik kepada Bapakku dan Bapakmu dan kepada Allahku dan Allahmu,” tidak ada alasan untuk percaya bahwa Tomas memandang Yesus sebagai Allah Yang Mahakuasa. (Yoh 20:17) Yohanes sendiri, setelah menceritakan pertemuan Tomas dengan Yesus yang telah dibangkitkan, mengatakan tentang hal ini dan peristiwa-peristiwa lain yang serupa, ”Tetapi semuanya ini telah ditulis agar kamu percaya bahwa Yesus adalah Kristus, Putra Allah, dan agar, karena percaya, kamu dapat memperoleh kehidupan dengan perantaraan namanya.”—Yoh 20:30, 31.



Jadi, Tomas bisa jadi memanggil Yesus ”Allahku” dalam arti bahwa Yesus adalah ”suatu allah” sekalipun bukan Allah Yang Mahakuasa, bukan ”satu-satunya Allah yang benar”, yang kepada-Nya Tomas sering mendengar Yesus berdoa. (Yoh 17:1-3) Atau, ia mungkin menyebut Yesus sebagai ”Allahku” dalam makna yang serupa dengan ungkapan-ungkapan yang digunakan bapak-bapak leluhurnya, yang dicatat dalam Kitab-Kitab Ibrani, yang dikenal baik oleh Tomas. Pada berbagai kesempatan ketika orang-orang dikunjungi atau disapa oleh malaikat utusan Yehuwa, mereka, atau kadang-kadang penulis Alkitab yang mencatat kejadian tersebut, menanggapi atau berbicara tentang malaikat tersebut seakan-akan ia adalah Allah Yehuwa. (Bdk. Kej 16:7-11, 13; 18:1-5, 22-33; 32:24-30; Hak 6:11-15; 13:20-22.) Hal ini terjadi karena malaikat yang diutus itu bertindak sebagai wakil Yehuwa, berbicara atas nama-Nya, mungkin menggunakan kata ganti orang pertama tunggal, dan bahkan mengatakan, ”Akulah Allah yang benar.” (Kej 31:11-13; Hak 2:1-5) Oleh karena itu, Tomas bisa jadi memanggil Yesus ”Allahku” dalam arti tersebut, yakni mengakui Yesus sebagai wakil dan juru bicara Allah yang benar. Bagaimanapun juga, kata-kata Tomas pastilah tidak bertentangan dengan pernyataan Yesus yang jelas, yang ia sendiri dengar, yaitu, ”Bapak lebih besar daripada aku.”—Yoh 14:28.

Kelahirannya di Bumi. Sebelum kelahiran Yesus di bumi, para malaikat pernah menampakkan diri di planet ini dalam wujud manusia, tampaknya dengan menjelma dalam tubuh jasmani yang cocok dengan keperluan saat itu, kemudian kembali ke dalam wujud roh setelah menyelesaikan tugas-tugas tersebut. (Kej 19:1-3; Hak 6:20-22; 13:15-20) Jadi, mereka tetap adalah makhluk-makhluk roh, yang mengenakan tubuh jasmani untuk sementara saja. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan kedatangan Putra Allah ke bumi untuk menjadi manusia Yesus. Yohanes 1:14 mengatakan bahwa ”Firman itu menjadi manusia dan diam di antara kita”. Karena itulah ia dapat menyebut dirinya ”Putra manusia”. (Yoh 1:51; 3:14, 15) Beberapa orang menarik perhatian kepada ungkapan ”diam [harfiah, ”berkemah”] di antara kita” dan menurut mereka, hal ini memperlihatkan bahwa Yesus bukanlah manusia yang sesungguhnya, melainkan suatu inkarnasi. Akan tetapi, rasul Petrus menggunakan ungkapan yang serupa mengenai dirinya, dan Petrus jelas bukan suatu inkarnasi.—2Ptr 1:13, 14.

Catatan yang terilham mengatakan, ”Tetapi kelahiran Yesus Kristus adalah dengan cara ini. Pada masa Maria, ibunya, telah bertunangan dengan Yusuf, dia ternyata hamil melalui roh kudus sebelum mereka dipersatukan.” (Mat 1:18) Sebelum itu, malaikat utusan Yehuwa telah memberi tahu perawan Maria bahwa ia akan ’mengandung dalam rahimnya’ sebagai hasil roh kudus Allah yang datang ke atasnya dan kuasa-Nya yang menaungi dia. (Luk 1:30, 31, 34, 35) Karena Maria benar-benar mengandung, tampaknya Allah Yehuwa menyebabkan sebuah ovum, atau sel telur, dalam rahim Maria dibuahi; hal ini dilakukan dengan memindahkan kehidupan Putra sulung-Nya dari alam roh ke bumi. (Gal 4:4) Hanya dengan cara inilah anak yang akhirnya dilahirkan itu dapat tetap memiliki identitas sebagai pribadi yang sama yang pernah tinggal di surga sebagai sang Firman, dan hanya dengan cara ini ia dapat menjadi putra Maria yang sebenarnya dan dengan demikian menjadi keturunan sejati dari bapak-bapak leluhur Maria, yaitu Abraham, Ishak, Yakub, Yehuda, serta Raja Daud, dan menjadi ahli waris yang sah dari janji-janji ilahi yang diucapkan kepada mereka. (Kej 22:15-18; 26:24; 28:10-14; 49:10; 2Sam 7:8, 11-16; Luk 3:23-34; lihat SILSILAH YESUS KRISTUS.) Oleh karena itu, kemungkinan besar anak yang dilahirkan itu menyerupai ibu Yahudi-nya dengan ciri-ciri jasmani tertentu.

Maria adalah keturunan si pedosa Adam, karena itu, dia sendiri tidak sempurna dan berdosa. Maka timbul pertanyaan tentang bagaimana Yesus, ”anak [Maria] yang sulung” (Luk 2:7), bisa sempurna dan tubuh jasmaninya bebas dari dosa. Kendati para ahli genetika pada zaman modern ini telah banyak mempelajari hukum hereditas dan karakteristik-karakteristik yang dominan dan yang resesif, mereka tidak memiliki pengalaman sehubungan dengan hasil persatuan kesempurnaan dan ketidaksempurnaan, sebagaimana dalam hal Yesus sewaktu dikandung. Dari hasil-hasil yang disingkapkan dalam Alkitab, kelihatannya daya kehidupan laki-laki (yang menyebabkan pembuahan) yang sempurna menyingkirkan ketidaksempurnaan apa pun yang ada pada sel telur Maria, dengan demikian menghasilkan pola genetis (dan perkembangan embrio) yang sempurna sejak awalnya. Apa pun keadaannya, bekerjanya roh kudus Allah pada waktu itu menjamin suksesnya maksud-tujuan Allah. Sebagaimana dijelaskan oleh malaikat Gabriel kepada Maria, ”kuasa Yang Mahatinggi” menaungi dia sehingga yang dilahirkan itu kudus, yakni Putra Allah. Roh kudus Allah seolah-olah membentuk tembok pelindung sehingga ketidaksempurnaan atau kekuatan yang berbahaya tidak dapat merusak, atau mencemari, embrio yang sedang berkembang, sejak masa pembuahan.—Luk 1:35.

Karena roh kudus Allah itulah yang memungkinkan kelahiran tersebut, Yesus berutang kehidupan manusianya kepada Bapak surgawinya, bukan kepada manusia, seperti bapak angkatnya, Yusuf, atau siapa pun. (Mat 2:13-15; Luk 3:23) Menurut Ibrani 10:5, Allah Yehuwa ’menyiapkan suatu tubuh untuk dia’, dan Yesus, sejak dikandung, benar-benar ”tidak tercemar, terpisah dari orang-orang berdosa”.—Ibr 7:26; bdk. Yoh 8:46; 1Ptr 2:21, 22.

Oleh karena itu, nubuat tentang Mesias di Yesaya 52:14, yang berbicara tentang ”kerusakan pada rupanya”, tentunya hanya berlaku secara kiasan atas Yesus, sang Mesias. (Bdk. ay. 7 di pasal yang sama.) Kendati memiliki fisik yang sempurna, Yesus Kristus tampak menjijikkan di mata para penentangnya yang munafik karena berita kebenaran dan keadilbenaran yang diumumkannya tanpa gentar; mereka menyebut dia kaki tangan Beelzebul, orang yang dirasuk hantu, penipu yang suka menghujah. (Mat 12:24; 27:39-43; Yoh 8:48; 15:17-25) Dengan cara yang serupa, berita yang dinyatakan murid-murid Yesus belakangan menyebabkan mereka menjadi ”bau harum” kehidupan bagi orang-orang yang suka menerimanya, tetapi bau kematian bagi orang-orang yang menolak berita mereka.—2Kor 2:14-16.

Waktu Kelahiran dan Lama Pelayanan. Tampaknya, Yesus lahir pada bulan Etanim (September-Oktober) tahun 2 SM, dibaptis kira-kira pada bulan yang sama, tahun 29 M, dan wafat sekitar pukul 15.00 pada hari Jumat, hari ke-14 dari bulan Nisan (Maret-April), pada musim semi tahun 33 M. Dasar penentuan tanggal-tanggal tersebut adalah sebagai berikut:

Yesus lahir kira-kira enam bulan setelah kelahiran kerabatnya, Yohanes (Pembaptis), pada masa pemerintahan kaisar Romawi, Agustus Caesar (31 SM–14 M), dan gubernur Siria, Kuirinius (lihat PENDAFTARAN untuk perkiraan masa pemerintahan Kuirinius), dan menjelang akhir masa pemerintahan Herodes Agung atas wilayah Yudea.—Mat 2:1, 13, 20-22; Luk 1:24-31, 36; 2:1, 2, 7.

Kelahirannya dalam kaitan dengan kematian Herodes. Kapan Herodes wafat memang diperdebatkan, namun cukup banyak bukti menunjuk ke tahun 1 SM. (Lihat HERODES No. 1 [Tahun Kematiannya]; KRONOLOGI [Gerhana bulan].) Sejumlah peristiwa terjadi antara waktu kelahiran Yesus dan waktu kematian Herodes. Di antaranya adalah Yesus disunat pada hari kedelapan (Luk 2:21); ia dibawa ke bait di Yerusalem 40 hari setelah kelahirannya (Luk 2:22, 23; Im 12:1-4, 8); para ahli nujum mengadakan perjalanan ”dari bagian timur” ke Betlehem (tempat Yesus sudah tidak lagi berada dalam palungan tetapi di sebuah rumah—Mat 2:1-11; bdk. Luk 2:7, 15, 16); Yusuf dan Maria lari ke Mesir bersama anak yang masih kecil itu (Mat 2:13-15); kemudian, Herodes sadar bahwa para ahli nujum tidak mengikuti instruksinya, dan selanjutnya semua anak lelaki di Betlehem dan distrik-distriknya, yang berusia dua tahun ke bawah (yang menunjukkan bahwa Yesus pada waktu itu bukan lagi bayi yang baru lahir), dibantai. (Mat 2:16-18) Karena Yesus lahir pada musim gugur tahun 2 SM, ada cukup waktu untuk memungkinkan terjadinya semua peristiwa ini antara kelahirannya dan kematian Herodes, yang mungkin terjadi pada tahun 1 SM. Akan tetapi, ada alasan lain untuk menetapkan tahun 2 SM sebagai tahun kelahiran Yesus.

Hubungan dengan pelayanan Yohanes. Dasar lain untuk penetapan tanggal-tanggal yang disebutkan pada awal bagian ini terdapat di Lukas 3:1-3, yang memperlihatkan bahwa Yohanes Pembaptis mulai mengabar dan membaptis pada ”tahun kelima belas masa pemerintahan Kaisar Tiberius”. Tahun ke-15 itu berlangsung dari paruh kedua tahun 28 M sampai bulan Agustus atau September tahun 29 M. (Lihat TIBERIUS.) Pada suatu waktu dalam masa pelayanan Yohanes, Yesus datang kepadanya dan dibaptis. Setelah itu, ketika Yesus sendiri memulai pelayanannya, ia berumur ”kira-kira tiga puluh tahun”. (Luk 3:21-23) Sewaktu berumur 30 tahun, usia ketika Daud menjadi raja, Yesus tidak lagi berada di bawah kendali orang tua manusia.—2Sam 5:4, 5; bdk. Luk 2:51.

Menurut Bilangan 4:1-3, 22, 23, 29, 30, orang-orang memasuki dinas di tempat suci di bawah perjanjian Hukum ’dari umur tiga puluh tahun ke atas’. Masuk akal apabila Yohanes Pembaptis, yang adalah seorang Lewi dan putra seorang imam, memulai pelayanannya pada usia yang sama, tentunya bukan di bait, melainkan dalam tugas khusus yang telah Yehuwa tetapkan untuknya. (Luk 1:1-17, 67, 76-79) Perbedaan usia antara Yohanes dan Yesus serta keterkaitan antara penampakan diri dan berita malaikat Yehuwa sewaktu mengumumkan kelahiran kedua putra tersebut (Luk 1) disebutkan secara spesifik (dua kali); hal ini memberikan dasar yang kuat untuk menyimpulkan bahwa jadwal waktu pelayanan mereka beriringan: awal pelayanan Yohanes (sebagai pembuka jalan bagi Yesus) disusul enam bulan kemudian oleh pelayanan Yesus.

Berdasarkan hal itu, Yohanes lahir 30 tahun sebelum ia mengawali pelayanannya pada tahun ke-15 masa pemerintahan Tiberius, jadi antara paruh kedua tahun 3 SM dan bulan Agustus atau September tahun 2 SM; Yesus lahir enam bulan setelah itu.

Bukti tentang tiga setengah tahun pelayanannya. Melalui bukti kronologis lebih lanjut, kita dapat mengambil kesimpulan yang lebih pasti lagi. Bukti itu berkaitan dengan lamanya pelayanan Yesus dan waktu kematiannya. Nubuat di Daniel 9:24-27 (yang dibahas secara lengkap dalam artikel TUJUH PULUH MINGGU) menunjukkan bahwa sang Mesias muncul pada awal ”minggu” tahun yang ke-70 (Dan 9:25) dan mati sebagai korban ”pada pertengahan” minggu terakhir tersebut, dengan demikian mengakhiri keabsahan korban-korban dan persembahan pemberian di bawah perjanjian Hukum. (Dan 9:26, 27; bdk. Ibr 9:9-14; 10:1-10.) Jadi, masa pelayanan Yesus Kristus berlangsung selama tiga setengah tahun (setengah dari satu ”minggu” yang lamanya tujuh tahun).

Kalau pelayanan Yesus memang berlangsung selama tiga setengah tahun, yang berakhir dengan kematiannya pada waktu Paskah, dalam periode tersebut harus ada empat kali Paskah. Bukti bahwa ada empat perayaan Paskah terdapat di Yohanes 2:13; 5:1; 6:4; dan 13:1. Yohanes 5:1 tidak secara spesifik menyebutkan Paskah, tetapi hanya menyebutkan ”perayaan orang Yahudi”. Namun, ada dasar yang kuat untuk percaya bahwa Paskah-lah yang dimaksudkan, dan bukan perayaan tahunan lainnya.

Sebelumnya, di Yohanes 4:35, Yesus mengatakan bahwa ”masih ada empat bulan lagi sebelum panen tiba”. Musim panen, khususnya panen barli, berlangsung sekitar waktu Paskah (14 Nisan). Jadi, pernyataan Yesus diucapkan empat bulan sebelum itu atau kira-kira pada bulan Khislew (November-Desember). Perayaan Penahbisan pascapembuangan jatuh pada bulan Khislew tetapi itu bukan perayaan akbar yang wajib dihadiri di Yerusalem. (Kel 23:14-17; Im 23:4-44) Perayaan itu diselenggarakan di seluruh negeri di banyak sinagoga, menurut tradisi Yahudi. (Lihat PERAYAAN PENAHBISAN.) Belakangan, di Yohanes 10:22, secara spesifik disebutkan bahwa Yesus menghadiri Perayaan Penahbisan di Yerusalem; namun, tampaknya ia sudah berada di sana sejak Perayaan Pondok yang sebelumnya, sehingga ia tidak usah pergi lagi ke sana khusus untuk maksud tersebut. Berbeda dengan hal itu, Yohanes 5:1 jelas menyiratkan bahwa ”perayaan orang Yahudi” tertentulah yang menyebabkan Yesus pergi dari Galilea (Yoh 4:54) ke Yerusalem.

Satu-satunya perayaan lain antara bulan Khislew dan Paskah adalah Perayaan Purim, yang diselenggarakan pada bulan Adar (Februari-Maret), kira-kira satu bulan sebelum Paskah. Tetapi Perayaan Purim pascapembuangan itu pun dirayakan di seluruh negeri, di rumah-rumah dan sinagoga-sinagoga. (Lihat PURIM.) Jadi, tampaknya, kemungkinan yang paling besar ialah bahwa ”perayaan orang Yahudi” yang disebutkan di Yohanes 5:1 memaksudkan Paskah, dan kehadiran Yesus di Yerusalem pada waktu itu sesuai dengan hukum Allah kepada Israel. Memang, setelah itu tidak banyak peristiwa yang dicatat Yohanes sebelum Paskah yang berikutnya disebutkan (Yoh 6:4), namun tabel Peristiwa-Peristiwa Utama dalam Kehidupan Yesus di Bumi menunjukkan bahwa liputan Yohanes tentang pelayanan awal Yesus sangatlah singkat, banyak peristiwa yang sudah dibahas tiga evangelis lainnya tidak dilaporkan lagi. Sebenarnya, banyak kegiatan Yesus yang dicatat oleh tiga penulis Injil lain itu (Matius, Markus, dan Lukas) mendukung kesimpulan bahwa memang ada satu perayaan Paskah tahunan di antara dua Paskah yang dicatat di Yohanes 2:13 dan di Yohanes 6:4.

Waktu kematiannya. Yesus Kristus mati pada musim semi, pada hari Paskah, tanggal 14 Nisan (atau Abib), menurut kalender Yahudi. (Mat 26:2; Yoh 13:1-3; Kel 12:1-6; 13:4) Pada tahun itu Paskah jatuh pada hari keenam pada minggu yang bersangkutan (yang oleh orang Yahudi dihitung mulai dari matahari terbenam pada hari Kamis sampai matahari terbenam pada hari Jumat). Hal itu terbukti dari Yohanes 19:31, yang memperlihatkan bahwa hari berikutnya adalah sabat ”besar”. Paskah selalu diikuti hari sabat, tidak soal kapan jatuhnya pada minggu yang bersangkutan. (Im 23:5-7) Namun, jika Sabat khusus ini bertepatan dengan Sabat biasa (hari ketujuh pada minggu yang bersangkutan), hari itu menjadi ”sabat yang besar”. Jadi, Yesus mati pada hari Jumat, tanggal 14 Nisan, kira-kira pukul 15.00.—Luk 23:44-46.

Ikhtisar bukti. Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa karena Yesus mati pada musim semi, bulan Nisan, pelayanannya, yang berawal tiga setengah tahun sebelumnya menurut Daniel 9:24-27, pastilah dimulai pada musim gugur, kira-kira pada bulan Etanim (September-Oktober). Kalau begitu, pelayanan Yohanes (yang berawal pada tahun ke-15 masa pemerintahan Tiberius), pastilah dimulai pada musim semi tahun 29 M. Oleh karena itu, dapat ditentukan bahwa Yohanes lahir pada musim semi tahun 2 SM; Yesus lahir sekitar enam bulan kemudian, yaitu pada musim gugur tahun 2 SM, dan mulai melayani kurang lebih 30 tahun kemudian, pada musim gugur tahun 29 M, dan mati pada tahun 33 M (pada tanggal 14 Nisan, musim semi, sebagaimana telah disebutkan).

Tidak ada dasar untuk kelahiran di musim dingin. Oleh karena itu, tidak ada dasar dalam Alkitab untuk menganggap tanggal 25 Desember yang terkenal itu sebagai hari kelahiran Yesus. Sebagaimana ditunjukkan oleh banyak karya referensi, tanggal itu berasal dari hari raya kafir. Sehubungan dengan asal usul perayaan pada tanggal 25 Desember, seorang pakar Yesuit bernama Urbanus Holzmeister menulis,

”Dewasa ini orang-orang pada umumnya mengakui bahwa peristiwa yang dirayakan pada tanggal 25 Desember adalah perayaan yang diperingati orang-orang kafir pada hari itu. Setelah mengadakan pengamatan, Petavius [pakar Yesuit berkebangsaan Prancis, 1583-1652] dengan tepat menyimpulkan bahwa pada tanggal 25 Desember orang-orang memperingati ’hari lahir matahari yang tak terkalahkan’.

”Bukti-bukti yang meneguhkan perayaan ini adalah: (a) Kalender Furius Dionisius Filokalus, yang disusun pada tahun 354 [M], yang berisi komentar, ’25 Desember, Hari Lahir (Matahari) yang tak terkalahkan.’ (b) Kalender astrolog Antiokhus (disusun sekitar tahun 200 [M]): ’Bulan Desember . . . tanggal 25 . . . Hari lahir Matahari; siang hari bertambah panjang.’ (c) Kaisar Yulianus [Yulianus, si Murtad, kaisar 361-363 M] merekomendasikan pesta olahraga pada akhir tahun untuk menghormati matahari, yang disebut ’matahari yang tak terkalahkan.’”—Chronologia vitae Christi (Kronologi Kehidupan Kristus), Pontificium Institutum Biblicum, Roma, 1933, hlm. 46.

Mungkin bukti yang paling jelas bahwa tanggal 25 Desember bukanlah hari kelahiran Yesus adalah fakta berdasarkan Alkitab bahwa para gembala berada di padang untuk menjaga kawanan mereka pada malam kelahiran Yesus. (Luk 2:8, 12) Pada musim gugur, bulan Bul (Oktober-November), musim hujan sudah mulai (Ul 11:14), dan kawanan dibawa masuk ke tempat bernaung yang terlindung pada malam hari. Bulan berikutnya, Khislew (bulan kesembilan pada kalender Yahudi, November-Desember), merupakan bulan yang cuacanya dingin dan banyak hujan (Yer 36:22; Ezr 10:9, 13), dan pada bulan Tebet (Desember-Januari), suhu udara paling rendah dalam setahun, dan di daerah pegunungan kadang-kadang turun salju. Oleh karena itu, adanya para gembala di padang pada waktu malam selaras dengan bukti yang menunjukkan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur pada bulan Etanim.—Lihat BUL; KHISLEW.

Selain itu, fakta yang tidak mendukung hari pada bulan Desember adalah bahwa kecil sekali kemungkinannya kaisar Romawi memilih bulan yang sangat dingin dan banyak hujan sebagai waktu untuk menyuruh rakyatnya yang berkebangsaan Yahudi (yang sering memberontak) agar mengadakan perjalanan, ”masing-masing ke kotanya sendiri” untuk mendaftarkan diri.—Luk 2:1-3; bdk. Mat 24:20; lihat TEBET.

Awal Kehidupan. Catatan tentang awal kehidupan Yesus sangat singkat. Ia lahir di Betlehem Yudea, kota kelahiran Raja Daud, kemudian dibawa ke Nazaret di Galilea setelah keluarganya kembali dari Mesir—semuanya itu merupakan penggenapan nubuat ilahi. (Mat 2:4-6, 14, 15, 19-23; Mi 5:2; Hos 11:1; Yes 11:1; Yer 23:5) Ayah angkat Yesus, Yusuf, adalah seorang tukang kayu (Mat 13:55) dan kelihatannya miskin. (Bdk. Luk 2:22-24 dengan Im 12:8.) Dengan demikian, Yesus, yang pada hari pertama kehidupan manusianya tidur di sebuah kandang binatang, tampaknya melewatkan masa kanak-kanaknya dalam kesederhanaan. Nazaret bukanlah kota yang terkemuka dalam sejarah, sekalipun letaknya dekat dua jalur perdagangan utama. Kota itu mungkin dipandang rendah oleh banyak orang Yahudi.—Bdk. Yoh 1:46; lihat GAMBAR, Jil. 2, hlm. 539; NAZARET.

Tidak ada yang diketahui tentang tahun-tahun awal kehidupan Yesus kecuali bahwa ”anak kecil itu terus bertumbuh dan menjadi kuat, dipenuhi dengan hikmat, dan perkenan Allah terus ada padanya”. (Luk 2:40) Seraya waktu berjalan keluarga itu bertambah besar, Yusuf dan Maria memperoleh empat putra dan beberapa putri lagi. (Mat 13:54-56) Jadi, putra ”sulung” (Luk 2:7) Maria tidak bertumbuh sebagai anak tunggal. Tak diragukan, hal ini menjelaskan mengapa orang tua Yesus bisa berjalan pulang dari Yerusalem tanpa menyadari selama beberapa waktu bahwa Yesus, anak mereka yang tertua, tidak ada dalam kelompok mereka. Peristiwa kunjungan Yesus (sebagai anak berusia 12 tahun) ke bait dan diskusinya dengan para guru Yahudi yang dibuatnya tercengang merupakan satu-satunya peristiwa selama awal kehidupannya yang dicatat dengan cukup terperinci. (GAMBAR, Jil. 2, hlm. 538) Jawaban Yesus kepada orang tuanya yang sedang khawatir sewaktu mereka menemukannya di sana memperlihatkan bahwa Yesus tahu tentang kelahirannya yang bersifat mukjizat dan tentang masa depannya sebagai Mesias. (Luk 2:41-52) Tentulah, ibunya dan ayah angkatnya telah menyampaikan kepadanya keterangan yang mereka peroleh dari kunjungan malaikat, dan juga nubuat yang diucapkan Simeon dan Hana pada waktu mereka membawa Yesus untuk pertama kalinya ke Yerusalem, 40 hari setelah kelahirannya.—Mat 1:20-25; 2:13, 14, 19-21; Luk 1:26-38; 2:8-38.

Tidak ada petunjuk bahwa Yesus memiliki atau menggunakan kekuatan mukjizat pada masa kanak-kanaknya, sebagaimana disebutkan dalam cerita-cerita khayalan di beberapa karya apokrifa, seperti cerita dalam Injil Tomas tentang Bayi [Yesus]. Peristiwa diubahnya air menjadi anggur di Kana, pada masa pelayanannya, adalah ”permulaan dari tanda-tandanya”. (Yoh 2:1-11) Demikian pula, sewaktu berada di tengah-tengah keluarganya di Nazaret, Yesus tampaknya tidak memamerkan hikmat dan keunggulannya sebagai manusia sempurna, sebagaimana mungkin ditunjukkan oleh fakta bahwa saudara-saudara tirinya tidak memperlihatkan iman kepadanya selama pelayanannya sebagai manusia, dan juga ditunjukkan oleh rasa tidak percaya yang diperlihatkan mayoritas penduduk Nazaret kepadanya.—Yoh 7:1-5; Mrk 6:1, 4-6.

Namun, jelaslah bahwa Yesus dikenal baik oleh masyarakat Nazaret (Mat 13:54-56; Luk 4:22); sifat-sifat dan kepribadiannya yang luar biasa pasti telah diperhatikan, setidaknya oleh orang-orang yang menghargai keadilbenaran dan kebaikan. (Bdk. Mat 3:13, 14.) Setiap Sabat, ia menghadiri acara-acara rohani di sinagoga. Ia menerima pendidikan yang baik, sebagaimana terlihat dari kesanggupannya untuk menemukan dan membaca bagian-bagian dalam Tulisan-Tulisan Suci, tetapi ia tidak mengikuti sekolah ”tinggi” untuk para rabi.—Luk 4:16; Yoh 7:14-16.

Catatan tentang awal kehidupan Yesus memang singkat karena Yesus belum diurapi oleh Yehuwa sebagai ”Kristus” (Mat 16:16) dan belum mulai melaksanakan tugas ilahi yang menanti. Seperti kelahirannya, masa kanak-kanak dan proses pertumbuhannya, sekalipun bukan yang terpenting, perlu dilalui sebelum mencapai tujuan akhir. Sebagaimana yang belakangan Yesus nyatakan kepada gubernur Romawi, Pilatus, ”Untuk inilah aku dilahirkan, dan untuk inilah aku datang ke dunia, agar aku memberikan kesaksian tentang kebenaran.”—Yoh 18:37.

Baptisannya. Pencurahan roh kudus pada waktu pembaptisan Yesus menandai saat ketika ia benar-benar menjadi sang Mesias, atau Kristus, Pribadi yang Diurapi Allah (digunakannya gelar itu oleh para malaikat sewaktu mengumumkan kelahirannya ternyata mengandung nubuat; Luk 2:9-11, perhatikan juga ay. 25, 26). Selama enam bulan Yohanes ’mempersiapkan jalan’ bagi ”sarana penyelamatan dari Allah”. (Luk 3:1-6) Yesus, yang pada waktu itu ”berumur kira-kira tiga puluh tahun”, dibaptis setelah Yohanes mula-mula mengemukakan keberatannya karena hingga saat itu Yohanes hanya membaptis para pedosa yang bertobat. (Mat 3:1, 6, 13-17; Luk 3:21-23) Namun, Yesus tidak memiliki dosa; oleh karena itu, baptisannya merupakan bukti bahwa ia mempersembahkan dirinya untuk melakukan kehendak Bapaknya. (Bdk. Ibr 10:5-9.) Sesudah Yesus ”keluar dari air”, dan sementara dia berdoa, ”dia melihat langit terbelah”, roh Allah turun ke atas Yesus dalam bentuk seperti seekor merpati, dan suara Yehuwa terdengar dari surga, mengatakan, ”Engkaulah Putraku, yang kukasihi; aku berkenan kepadamu.”—Mat 3:16, 17; Mrk 1:9-11; Luk 3:21, 22.

Roh Allah yang dicurahkan ke atas Yesus pastilah menerangi pikirannya dalam banyak hal. Pernyataan-pernyataannya sendiri setelah itu, dan khususnya doanya yang hangat kepada Bapaknya pada malam Paskah tahun 33 M memperlihatkan bahwa Yesus mengingat kembali eksistensi pramanusianya dan hal-hal yang ia dengar dari Bapaknya dan yang ia lihat Bapaknya lakukan, serta kemuliaan yang telah ia sendiri nikmati di surga. (Yoh 6:46; 7:28, 29; 8:26, 28, 38; 14:2; 17:5) Kemungkinan besar, ia dapat mengingat kembali hal-hal tersebut pada waktu ia dibaptis dan diurapi.

Dengan diurapi roh kudus, Yesus dilantik dan ditugasi untuk melaksanakan pelayanannya, yakni mengabar dan mengajar (Luk 4:16-21) dan juga melayani sebagai Nabi Allah. (Kis 3:22-26) Namun, yang paling utama, dengan pengurapan tersebut ia dilantik dan ditugasi untuk menjadi Raja yang dijanjikan Yehuwa, pewaris takhta Daud (Luk 1:32, 33, 69; Ibr 1:8, 9) dan pewaris Kerajaan yang abadi. Karena alasan itulah, belakangan ia dapat mengatakan kepada orang-orang Farisi, ”Kerajaan Allah ada di tengah-tengah kamu.” (Luk 17:20, 21) Demikian pula, Yesus diurapi untuk bertindak sebagai Imam Besar Allah, bukan seperti salah satu keturunan Harun, melainkan seperti Raja-Imam Melkhizedek.—Ibr 5:1, 4-10; 7:11-17.

Sejak lahir Yesus adalah Putra Allah, sebagaimana Adam yang sempurna adalah ”putra Allah”. (Luk 3:38; 1:35) Para malaikat mengidentifikasi Yesus sebagai Putra Allah sejak ia lahir. Setelah Yesus dibaptis, terdengarlah suara Bapaknya yang mengatakan, ”Engkaulah Putraku, yang kukasihi; aku berkenan kepadamu” (Mrk 1:11); maka tampaknya masuk akal untuk menyimpulkan bahwa pernyataan yang menyertai pengurapan dengan roh Allah itu lebih dari sekadar pengakuan tentang identitas Yesus. Berdasarkan bukti, Yesus pada waktu itu diperanakkan atau dilahirkan oleh Allah sebagai Putra rohani-Nya, seolah-olah ”dilahirkan kembali” dengan hak untuk sekali lagi menerima kehidupan sebagai Putra rohani Allah di surga.—Bdk. Yoh 3:3-6; 6:51; 10:17, 18; lihat BAPTIS, PEMBAPTISAN; SATU-SATUNYA YANG DIPERANAKKAN.

Kedudukannya yang Penting dalam Maksud-Tujuan Allah. Allah Yehuwa menganggap tepat untuk menjadikan Putra sulung-Nya tokoh utama, atau tokoh kunci, dalam pelaksanaan seluruh maksud-tujuan-Nya (Yoh 1:14-18; Kol 1:18-20; 2:8, 9), titik pusat terkonsentrasinya dan memancarnya terang semua nubuat (1Ptr 1:10-12; Pny 19:10; Yoh 1:3-9), jalan keluar bagi semua problem yang ditimbulkan oleh pemberontakan Setan (Ibr 2:5-9, 14, 15; 1Yoh 3:8), dan dasar bagi penyelenggaraan yang Allah bentuk di kemudian hari demi kebaikan abadi keluarga universal-Nya di surga dan bumi. (Ef 1:8-10; 2:20; 1Ptr 2:4-8) Karena peranannya sangat penting dalam maksud-tujuan Allah, Yesus dapat mengatakan dengan tepat dan tanpa dilebih-lebihkan, ”Akulah jalan dan kebenaran dan kehidupan. Tidak seorang pun datang kepada Bapak kecuali melalui aku.”—Yoh 14:6.

”Rahasia suci.” Maksud-tujuan Allah yang tersingkap dalam diri Yesus Kristus tetap menjadi suatu ”rahasia suci [atau, misteri] yang . . . dibiarkan bungkam untuk waktu yang lama”. (Rm 16:25-27) Selama lebih dari 4.000 tahun, sejak pemberontakan di Eden, pria-pria beriman telah menanti-nantikan penggenapan janji Allah mengenai ’benih’ yang akan meremukkan kepala Musuh yang bagaikan ular dan dengan demikian membawa kelepasan bagi umat manusia. (Kej 3:15) Sudah hampir 2.000 tahun mereka menaruh harap akan perjanjian Yehuwa dengan Abraham untuk suatu ’benih’ yang akan ”merebut gerbang musuh-musuhnya” dan yang melaluinya semua bangsa di bumi akan memperoleh berkat.—Kej 22:15-18.

Akhirnya, pada ”kesudahan jangka waktu itu, Allah mengutus Putranya” dan melalui dia menyingkapkan makna ”rahasia suci” itu, memberikan jawaban yang pasti untuk sengketa yang ditimbulkan oleh Musuh Allah (lihat YEHUWA [Sengketa utama, sengketa moral]), dan memberikan sarana untuk menebus manusia yang taat dari dosa dan kematian melalui korban tebusan Putra-Nya. (Gal 4:4; 1Tim 3:16; Yoh 14:30; 16:33; Mat 20:28) Dengan demikian, Allah Yehuwa menyingkirkan dari pikiran hamba-hamba-Nya semua ketidakpastian atau ketidakjelasan mengenai maksud-tujuan-Nya. Karena itulah sang rasul mengatakan bahwa ”tidak soal seberapa banyak janji-janji Allah, itu telah menjadi Ya melalui [Yesus Kristus]”.—2Kor 1:19-22.

”Rahasia suci” itu tidak hanya mencakup identifikasi Putra Allah sebagai bagian dari rahasia tersebut, tetapi peranan yang diberikan kepadanya dalam kerangka maksud-tujuan Allah yang telah ditetapkan sebelumnya, dan penyingkapan serta pelaksanaannya melalui Yesus Kristus. Maksud-tujuan itu, yang sudah lama merupakan sebuah rahasia, adalah ”suatu administrasi pada kesudahan dari waktu yang ditetapkan, yakni untuk mengumpulkan kembali segala perkara dalam Kristus, perkara-perkara di surga dan perkara-perkara di bumi”.—Ef 1:9, 10.

Salah satu aspek ”rahasia suci” yang erat kaitannya dengan Kristus Yesus adalah bahwa ia akan mengepalai pemerintahan surgawi yang baru, yang beranggotakan orang-orang (Yahudi dan non-Yahudi) yang diambil dari antara penduduk bumi, dan yang daerah kekuasaannya mencakup baik surga maupun bumi. Oleh karena itu, dalam penglihatan di Daniel 7:13, 14, pribadi yang ”seperti putra manusia” (gelar yang belakangan sering digunakan untuk Kristus—Mat 12:40; 24:30; Luk 17:26; bdk. Pny 14:14) muncul di pengadilan surgawi Yehuwa dan diserahi ”kekuasaan dan kehormatan dan kerajaan, agar semua orang dari berbagai bangsa, kelompok bangsa dan bahasa melayani dia”. Akan tetapi, penglihatan yang sama memperlihatkan bahwa ”orang-orang kudus, umat Pribadi Yang Mahatinggi” juga turut ambil bagian bersama ”putra manusia” ini dalam Kerajaan, pemerintahan, serta keagungannya. (Dan 7:27) Selama berada di bumi, Yesus memilih dari antara murid-muridnya calon-calon anggota pertama pemerintahan Kerajaannya dan, setelah mereka ’berpaut bersamanya dalam cobaan-cobaannya’, ia mengadakan perjanjian dengan mereka untuk suatu Kerajaan, sambil berdoa kepada Bapaknya agar mereka disucikan (atau dijadikan ”orang-orang kudus”) dan memohon agar ”di mana aku berada, mereka juga berada bersamaku, supaya dapat melihat kemuliaanku yang telah engkau berikan kepadaku”. (Luk 22:28, 29; Yoh 17:5, 17, 24) Dengan demikian, mereka dipersatukan dengan Kristus dan karena itu sidang Kristen juga berperan dalam ”rahasia suci” itu, sebagaimana belakangan dinyatakan oleh rasul yang terilham itu.—Ef 3:1-11; 5:32; Kol 1:26, 27; lihat RAHASIA SUCI.

”Wakil Utama kehidupan.” Sebagai pernyataan kebaikan hati Bapaknya yang tidak selayaknya diperoleh, Kristus Yesus menyerahkan kehidupan manusianya yang sempurna sebagai korban. Hal ini memungkinkan dipersatukannya para pengikut Kristus yang terpilih dengan dia dalam pemerintahan surgawinya dan juga memungkinkan adanya rakyat bagi pemerintahan Kerajaannya di bumi. (Mat 6:10; Yoh 3:16; Ef 1:7; Ibr 2:5; lihat TEBUSAN.) Dengan demikian, ia menjadi ”Wakil [”Pemimpin”, TB; KJ; JB] Utama kehidupan” bagi seluruh umat manusia. (Kis 3:15) Istilah Yunani yang digunakan di sini pada dasarnya berarti ”pemimpin utama”, yang berkaitan dengan kata yang diterapkan pada Musa (Kis 7:27, 35) yang disebut ”penguasa” di Israel.

Oleh karena itu, sebagai ”pemimpin utama” atau ”perintis Kehidupan” (Mo), Yesus Kristus memperkenalkan suatu unsur yang baru dan penting untuk memperoleh kehidupan kekal, yaitu peranannya sebagai perantara, namun ia juga menjadi perantara dalam arti administratif. Dialah Imam Besar Allah yang dapat sepenuhnya membersihkan manusia dari dosa dan membebaskan manusia dari berbagai pengaruh dosa yang mematikan (Ibr 3:1, 2; 4:14; 7:23-25; 8:1-3); ia adalah Hakim terlantik yang dipercayakan untuk menangani semua penghakiman, agar ia dengan bijaksana menyalurkan manfaat korban tebusannya kepada orang-orang di antara umat manusia yang dianggap layak untuk hidup di bawah pemerintahannya (Yoh 5:22-27; Kis 10:42, 43); melalui dia kebangkitan orang mati juga terlaksana. (Yoh 5:28, 29; 6:39, 40) Karena Allah Yehuwa menetapkan untuk menggunakan Putra-Nya dengan cara demikian, ”tidak ada keselamatan dalam siapa pun selain dalam dia, karena tidak ada nama lain di bawah langit yang telah diberikan di antara manusia yang melaluinya kita akan diselamatkan”.—Kis 4:12; bdk. 1Yoh 5:11-13.

Karena aspek kewenangan Yesus juga terkandung dalam ”nama”-nya, dengan nama itu pula murid-muridnya, yang mewakili Wakil Utama kehidupan, dapat menyembuhkan orang-orang dari kelemahan jasmani akibat dosa warisan dan mereka bahkan dapat membangkitkan orang mati.—Kis 3:6, 15, 16; 4:7-11; 9:36-41; 20:7-12.

Makna lengkap ”nama”-nya. Jelaslah bahwa kematian Yesus pada tiang siksaan memang merupakan bagian yang sangat penting dalam penyelamatan manusia, tetapi menerima hal itu bukanlah satu-satunya yang terkait dalam ’menaruh iman akan nama Yesus’. (Kis 10:43) Setelah kebangkitannya, Yesus memberi tahu murid-muridnya, ”Semua wewenang di surga dan di bumi telah diberikan kepadaku,” dengan demikian menunjukkan bahwa ia mengepalai suatu pemerintahan yang berlingkup universal. (Mat 28:18) Rasul Paulus membuat jelas bahwa dalam ”menundukkan segala sesuatu kepada [Yesus] tidak ada yang Allah kecualikan”, namun hal ini tentu tidak termasuk ”dia yang telah menundukkan segala sesuatu kepadanya”, yakni Yehuwa, Allah Yang Berdaulat. (1Kor 15:27; Ibr 1:1-14; 2:8) Oleh karena itu, ”nama” Yesus Kristus lebih unggul daripada nama malaikat-malaikat Allah, karena namanya mencakup atau menggambarkan wewenang eksekutif yang besar yang Yehuwa percayakan kepadanya. (Ibr 1:3, 4) Hanya orang-orang yang bersedia mengakui ”nama” itu dan tunduk kepadanya, yaitu menundukkan diri kepada wewenang di balik nama itu, akan memperoleh kehidupan kekal. (Kis 4:12; Ef 1:19-23; Flp 2:9-11) Mereka harus, dengan tulus dan tanpa kemunafikan, menyelaraskan diri dengan standar-standar yang Yesus contohkan dan, dengan iman, menaati perintah-perintah yang ia berikan.—Mat 7:21-23; Rm 1:5; 1Yoh 3:23.

Apa ”nama” Yesus yang menyebabkan orang Kristen dibenci oleh semua bangsa?

Untuk menjelaskan aspek lain dari ”nama”-nya, Yesus menyampaikan peringatan yang mengandung nubuat bahwa para pengikutnya akan menjadi ”sasaran kebencian semua bangsa oleh karena namaku”. (Mat 24:9; juga Mat 10:22; Yoh 15:20, 21; Kis 9:15, 16) Jelaslah, hal ini terjadi bukan karena namanya berkaitan dengan peranannya sebagai Penebus, melainkan karena namanya berkaitan dengan peranannya sebagai Penguasa yang dilantik Allah, Raja atas segala raja, yang kepadanya semua bangsa harus tunduk, dan jika tidak, mereka akan dibinasakan.—Pny 19:11-16; bdk. Mz 2:7-12.

Demikian pula, tidak diragukan bahwa sewaktu hantu-hantu menyerah kepada perintah Yesus untuk keluar dari orang-orang yang mereka rasuki, mereka melakukannya, bukan karena Yesus adalah Anak Domba Allah yang dikorbankan, melainkan karena wewenang di balik namanya sebagai wakil terurap Kerajaan itu, pribadi yang memiliki wewenang untuk memanggil, bukan hanya satu legiun, melainkan dua belas legiun malaikat, yang sanggup mengusir hantu-hantu mana pun yang mungkin saja berkeras melawan perintah untuk keluar. (Mrk 5:1-13; 9:25-29; Mat 12:28, 29; 26:53; bdk. Dan 10:5, 6, 12, 13.) Para rasul Yesus yang setia diberi wewenang untuk menggunakan namanya guna mengusir hantu-hantu, baik sebelum maupun sesudah kematiannya. (Luk 9:1; 10:17; Kis 16:16-18) Tetapi ketika putra-putra Skewa, seorang imam Yahudi, mencoba menggunakan nama Yesus dengan cara ini, roh fasik itu menggugat hak mereka untuk memohon dengan wewenang yang ada di balik nama itu dan menyebabkan pria yang dirasuki itu menyerang dan memukuli mereka.—Kis 19:13-17.

Pada waktu para pengikut Yesus menyebut ”nama”-nya, mereka sering menggunakan ungkapan ”Tuan Yesus” atau ”Tuan kita,Yesus Kristus”. (Kis 8:16; 15:26; 19:5, 13, 17; 1Kor 1:2, 10; Ef 5:20; Kol 3:17) Mereka mengakui dia sebagai Tuan mereka bukan hanya karena ia adalah orang yang dilantik Allah sebagai Pribadi yang Membeli Kembali dan Pemilik mereka melalui nilai korban tebusannya (1Kor 6:20; 7:22, 23; 1Ptr 1:18, 19; Yud 4), melainkan juga karena kedudukan dan wewenangnya sebagai raja. Atas nama Yesus itulah, yakni yang menggambarkan wewenangnya baik sebagai raja maupun imam, para pengikutnya mengabar (Kis 5:29-32, 40-42), membaptis murid-murid (Mat 28:18-20; Kis 2:38; bdk. 1Kor 1:13-15), memecat orang-orang yang amoral (1Kor 5:4, 5), dan menasihati serta mengajar sidang-sidang Kristen yang mereka gembalakan (1Kor 1:10; 2Tes 3:6). Jadi, pastilah, orang-orang yang diperkenan oleh Yesus untuk memperoleh kehidupan tidak boleh lagi menaruh iman, atau menyatakan kesetiaan, kepada ”nama” lain yang mewakili wewenang Allah untuk memerintah, tetapi harus memperlihatkan keloyalan yang tak terpatahkan kepada ”nama” Raja yang dilantik Allah ini, yaitu Tuan Yesus Kristus.—Mat 12:18, 21; Pny 2:13; 3:8; lihat MENGHAMPIRI ALLAH.

”Memberikan Kesaksian tentang Kebenaran.” Untuk pertanyaan Pilatus, ”Jadi, kalau begitu, apakah engkau seorang raja?”, Yesus menjawab, ”Engkau sendiri mengatakan bahwa aku seorang raja. Untuk inilah aku dilahirkan, dan untuk inilah aku datang ke dunia, agar aku memberikan kesaksian tentang kebenaran. Setiap orang yang berada di pihak kebenaran mendengarkan suaraku.” (Yoh 18:37; lihat KASUS HUKUM [Pengadilan Yesus].) Sebagaimana diperlihatkan Alkitab, kebenaran yang ia beritakan sebagai kesaksian bukanlah sekadar kebenaran umum, melainkan kebenaran yang paling penting tentang apa sebenarnya maksud-tujuan Allah pada masa lampau dan sekarang, kebenaran yang didasarkan atas fakta fundamental mengenai kehendak Allah yang paling unggul dan kesanggupan-Nya untuk memenuhi kehendak tersebut. Melalui pelayanannya, Yesus menyingkapkan kebenaran tersebut, yang tersimpan dalam ”rahasia suci”, yaitu Kerajaan Allah dengan Yesus Kristus, ”putra Daud”, sebagai Raja-Imam di atas takhta. Itulah juga inti berita yang dinyatakan para malaikat sebelum dan pada saat kelahirannya di Betlehem di Yudea, kota Daud.—Luk 1:32, 33; 2:10-14; 3:31.

Terlaksananya pelayanannya dalam memberikan kesaksian tentang kebenaran mengharuskan Yesus tidak sekadar berbicara, memberitakan, dan mengajar. Selain menanggalkan kemuliaan surgawinya untuk dilahirkan sebagai manusia, ia harus menggenapi semua hal yang dinubuatkan mengenai dia, termasuk berbagai gambaran, atau pola, yang terdapat dalam perjanjian Hukum. (Kol 2:16, 17; Ibr 10:1) Untuk menjunjung kebenaran firman serta janji-janji nubuat Bapaknya, Yesus harus hidup sedemikian rupa agar kebenaran itu menjadi kenyataan, dengan menggenapinya melalui apa yang ia katakan dan lakukan, melalui cara ia hidup, dan cara ia mati. Dengan demikian, ia harus menjadi kebenaran itu, yaitu perwujudan kebenaran, sebagaimana yang ia sendiri katakan.—Yoh 14:6.

Untuk alasan itulah rasul Yohanes dapat menulis bahwa Yesus ”penuh kebaikan hati yang tidak selayaknya diperoleh dan kebenaran” dan bahwa, meskipun ”Hukum telah diberikan melalui Musa, kebaikan hati yang tidak selayaknya diperoleh dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus”. (Yoh 1:14, 17) Melalui kelahirannya sebagai manusia, persembahan dirinya kepada Allah dengan baptisan air, pelayanannya kepada masyarakat selama tiga setengah tahun demi Kerajaan Allah, kematiannya dalam kesetiaan kepada Allah, kebangkitannya ke surga—melalui semua peristiwa bersejarah itu—kebenaran Allah ”datang”, artinya menjadi kenyataan. (Bdk. Yoh 1:18; Kol 2:17.) Oleh karena itu, sepanjang kariernya, Yesus Kristus ”memberikan kesaksian tentang kebenaran”, tentang hal-hal yang Allah nyatakan dengan sumpah. Oleh karena itu, Yesus bukan Mesias atau Kristus bayangan. Ia sendirilah pribadi yang dijanjikan itu. Ia bukan Raja-Imam bayangan. Ia, dalam kenyataannya, adalah pribadi sesungguhnya yang telah digambarkan sebelumnya.—Rm 15:8-12; bdk. Mz 18:49; 117:1; Ul 32:43; Yes 11:10.

Kebenaran ini adalah kebenaran yang akan ’memerdekakan orang-orang’ jika mereka memperlihatkan diri ”berada di pihak kebenaran” dengan menerima peranan Yesus dalam maksud-tujuan Allah. (Yoh 8:32-36; 18:37) Mengabaikan maksud-tujuan Allah sehubungan dengan Putra-Nya, membangun harapan di atas dasar lain apa pun, mengambil keputusan tentang haluan kehidupan atas dasar fondasi lain berarti mempercayai dusta, ditipu, mengikuti pengarahan bapak dusta, yaitu Musuh Allah. (Mat 7:24-27; Yoh 8:42-47) Hal itu juga berarti ’mati dalam dosa’. (Yoh 8:23, 24) Karena alasan itulah Yesus tidak menahan diri untuk menyatakan posisinya dalam maksud-tujuan Allah.

Memang benar, ia melarang murid-muridnya, bahkan dengan tegas, agar tidak memberitahukan kepada umum bahwa ia adalah Mesias (Mat 16:20; Mrk 8:29, 30) dan ia jarang menyebut dirinya secara langsung sebagai Kristus kecuali ketika berada sendirian bersama mereka. (Mrk 9:33, 38, 41; Luk 9:20, 21; Yoh 17:3) Akan tetapi, ia dengan berani dan sering menarik perhatian orang kepada nubuat-nubuat dan pekerjaan-pekerjaannya yang membuktikan bahwa dialah Kristus. (Mat 22:41-46; Yoh 5:31-39, 45-47; 7:25-31) Pada waktu Yesus berbicara kepada seorang wanita Samaria di sumur, sewaktu ia ”lelah oleh karena perjalanan”, ia mengungkapkan jati dirinya kepada wanita itu, mungkin untuk membangkitkan rasa ingin tahu orang-orang kota dan menarik mereka dari kota untuk datang kepadanya, dan memang itulah yang terjadi. (Yoh 4:6, 25-30) Pernyataan semata bahwa ia adalah Mesias akan sia-sia jika tidak disertai bukti, dan pada akhirnya, orang-orang yang melihat dan mendengarkannya harus memiliki iman agar berdasarkan bukti-bukti yang pasti itu mereka dapat mengambil kesimpulan yang tepat.—Luk 22:66-71; Yoh 4:39-42; 10:24-27; 12:34-36.

Diuji dan Disempurnakan. Allah Yehuwa mempertunjukkan kepercayaan yang sangat besar kepada Putra-Nya sewaktu ia ditugasi untuk pergi ke bumi dan melayani sebagai Mesias yang dijanjikan. Allah sudah memiliki maksud-tujuan bahwa akan ada suatu ’benih’ (Kej 3:15), yaitu sang Mesias, yang akan menjadi Anak Domba Allah yang akan dikorbankan; hal ini sudah Ia ketahui ”sebelum dunia dijadikan” (1Ptr 1:19, 20), ungkapan yang dibahas di bawah judul TAHU SEBELUMNYA; TETAPKAN SEBELUMNYA (Mesias Ditetapkan Sebelumnya). Akan tetapi, catatan Alkitab tidak menyatakan kapan Yehuwa menunjuk atau memberi tahu pribadi spesifik yang dipilih untuk menjalankan peranan tersebut, apakah pada saat pemberontakan di Eden atau beberapa waktu setelahnya. Syarat-syaratnya, khususnya sehubungan dengan korban tebusan, menutup kemungkinan bagi manusia yang tidak sempurna untuk digunakan, namun tidak bagi putra rohani yang sempurna. Dari antara jutaan putra rohani-Nya, Yehuwa memilih satu pribadi untuk melaksanakan tugas tersebut: Anak Sulung-Nya, Firman itu.—Bdk. Ibr 1:5, 6.

Putra Allah dengan rela menerima tugas tersebut. Hal ini nyata dalam Filipi 2:5-8; ia ”mengosongkan dirinya” dari kemuliaan surgawi dan wujud rohaninya dan ”mengambil wujud seorang budak”, rela kehidupannya dipindahkan ke dunia manusia jasmaniah di bumi. Tugas yang ada di hadapannya mendatangkan tanggung jawab yang sangat besar; banyak sekali yang terlibat. Dengan tetap setia ia akan membuktikan betapa kelirunya pernyataan Setan, yang dicatat dalam kasus Ayub, bahwa di bawah kekurangan, penderitaan, dan ujian, hamba-hamba Allah akan menyangkal Dia. (Ayb 1:6-12; 2:2-6) Dari antara segala makhluk ciptaan Allah, sebagai Putra sulung, Yesus dapat memberikan jawaban yang paling menentukan atas tuduhan itu dan bukti yang paling ampuh yang mendukung Bapaknya dalam sengketa yang lebih besar tentang keabsahan Yehuwa sebagai penguasa universal. Dengan demikian, ia terbukti menjadi ”Amin, saksi yang setia dan benar”. (Pny 3:14) Kalau ia gagal, ia akan membawa celaan atas nama Bapaknya, yang lebih buruk daripada jika yang gagal adalah makhluk lain mana pun.

Sewaktu memilih Putra satu-satunya yang diperanakkan, Yehuwa pasti tidak ’meletakkan tangan-Nya secara tergesa-gesa ke atasnya’, dengan risiko akan ’mengambil bagian dalam dosa-dosa yang mungkin dilakukan’, karena Yesus bukan seorang pemula yang mungkin akan menjadi ”besar kepala karena sombong dan mendapat penghakiman yang dinyatakan atas si Iblis”. (Bdk. 1Tim 5:22; 3:6.) Yehuwa ’sepenuhnya mengenal’ Putra-Nya melalui pergaulan yang akrab dengannya selama waktu yang tidak terhitung sebelumnya (Mat 11:27; bdk. Kej 22:12; Neh 9:7, 8) dan karena itu dapat menugasinya untuk menggenapi nubuat-nubuat yang tidak pernah meleset dalam Firman-Nya. (Yes 46:10, 11) Jadi, Allah tidak secara sembarangan atau otomatis menjamin ’keberhasilan yang pasti’ bagi Putra-Nya dengan asal memberinya peranan sebagai Mesias yang dinubuatkan (Yes 55:11), sebagaimana dikemukakan dalam teori takdir.

Sekalipun sang Putra belum pernah mengalami ujian seperti yang dihadapinya pada waktu itu, ia telah mempertunjukkan kesetiaan dan pengabdian dalam hal-hal lain. Ia pernah mengemban tanggung jawab besar sebagai Juru Bicara Allah, sang Firman. Namun, ia tidak pernah menyalahgunakan kedudukan dan wewenangnya, sebagaimana pernah dilakukan oleh Musa, juru bicara Allah di bumi pada suatu peristiwa. (Bil 20:9-13; Ul 32:48-51; Yud 9) Karena ia adalah Pribadi yang melaluinya segala sesuatu diciptakan, sang Putra adalah suatu allah, ”satu-satunya allah yang diperanakkan” (Yoh 1:18), karena itu ia memegang posisi yang lebih mulia dan unggul dibandingkan dengan semua putra rohani lain Allah. Meskipun demikian ia tidak menjadi angkuh. (Kontraskan dengan Yeh 28:14-17.) Jadi, tidak dapat dikatakan bahwa sang Putra belum membuktikan keloyalan, kerendahan hati, dan pengabdiannya dalam banyak hal.

Sebagai ilustrasi, pertimbangkan ujian yang diberikan kepada manusia putra Allah yang pertama, Adam. Ujian tersebut tidak berkaitan dengan ketekunan di bawah penindasan atau penderitaan, tetapi hanya soal memelihara respek yang menuntut ketaatan kepada kehendak Allah sehubungan dengan pohon pengetahuan tentang baik dan jahat. (Kej 2:16, 17; lihat POHON.) Pemberontakan dan godaan Setan bukanlah bagian dari ujian yang pada mulanya Allah berikan, melainkan unsur tambahan, yang tidak bersumber pada Allah. Ujian itu, sewaktu diberikan, juga tidak melibatkan godaan dari manusia lain, sebagaimana dialami oleh Adam akibat penyimpangan Hawa. (Kej 3:6, 12) Mengingat semua itu, ujian atas Adam bisa saja berjalan tanpa ada faktor luar yang menggoda atau mempengaruhi dia untuk melakukan pelanggaran, sehingga seluruh persoalannya bergantung pada hati Adam—kasihnya kepada Allah dan sifatnya yang tidak mementingkan diri. (Ams 4:23) Jika terbukti setia, Adam akan mendapat hak istimewa untuk mengambil buah dari ”pohon kehidupan dan makan dan hidup sampai waktu yang tidak tertentu” sebagai manusia putra Allah yang teruji dan diperkenan (Kej 3:22), semua itu tanpa harus terkena pengaruh dan godaan yang keji, penindasan, atau penderitaan.

Bisa diperhatikan pula bahwa putra rohani yang kemudian menjadi Setan tidak menyimpang dari dinas kepada Allah karena seseorang menindasnya atau menggodanya untuk melakukan pelanggaran. Pastilah bukan Allah, karena ’Ia tidak mencobai siapa pun dengan hal-hal jahat’. Tetapi putra rohani itu gagal memelihara keloyalan, membiarkan dirinya ”ditarik dan dipikat oleh keinginannya sendiri”, dan berdosa, menjadi pemberontak. (Yak 1:13-15) Ia gagal ketika kasihnya diuji.

Namun, sengketa yang ditimbulkan oleh Musuh Allah mengharuskan sang Putra, sebagai Mesias yang dijanjikan dan calon Raja Kerajaan Allah, menjalani ujian integritas di bawah keadaan baru. Ujian tersebut dan berbagai penderitaan yang tercakup di dalamnya juga perlu supaya ia ”menjadi sempurna” untuk posisinya sebagai Imam Besar Allah atas umat manusia. (Ibr 5:9, 10) Untuk memenuhi persyaratan pelantikan sebagai Wakil Utama keselamatan, Putra Allah ”wajib menjadi seperti ’saudara-saudara’-nya [orang-orang yang menjadi pengikutnya yang terurap] dalam segala hal, agar ia dapat menjadi imam besar yang berbelaskasihan dan setia”. Ia harus bertekun menahan kesukaran dan penderitaan, agar ia ”dapat membantu mereka yang sedang diuji”, dapat bersimpati terhadap kelemahan-kelemahan mereka sebagai pribadi yang ”telah diuji dalam segala hal seperti kita sendiri, namun tanpa dosa”. Sekalipun sempurna dan tanpa dosa, ia tetap dapat ”berpengertian terhadap orang-orang yang kurang pengetahuan dan yang berbuat salah”. Hanya melalui Imam Besar seperti itu manusia yang tidak sempurna dapat ”dengan kebebasan berbicara mendekati takhta kebaikan hati yang tidak selayaknya diperoleh, [untuk] memperoleh belas kasihan dan menemukan kebaikan hati yang tidak selayaknya diperoleh untuk mendapat pertolongan pada waktu yang tepat”.—Ibr 2:10-18; 4:15–5:2; bdk. Luk 9:22.

Masih tetap makhluk bermoral dengan kebebasan memilih. Yesus sendiri berkata bahwa semua nubuat tentang sang Mesias pasti menjadi kenyataan, ”harus digenapi”. (Luk 24:44-47; Mat 16:21; bdk. Mat 5:17.) Namun, fakta ini pasti tidak membebaskan Putra Allah dari tanggung jawabnya yang berat, dan juga tidak merampas kebebasannya untuk memilih—berlaku setia ataupun tidak setia. Persoalannya tidak sepihak, atau hanya bergantung pada Allah Yang Mahakuasa, Yehuwa. Putra-Nya harus melakukan bagiannya untuk membuat nubuat-nubuat itu menjadi kenyataan. Allah menjamin kepastian nubuat-nubuat itu dengan memilih secara bijaksana pribadi yang melaksanakan tugas tersebut, yakni ”Putra yang ia kasihi”. (Kol 1:13) Fakta bahwa Putra-Nya masih memiliki dan menggunakan kebebasannya untuk memilih pada masa ia hidup di bumi sebagai manusia sudah jelas. Yesus berbicara tentang kehendaknya sendiri, memperlihatkan bahwa ia secara sukarela menundukkan diri kepada kehendak Bapaknya (Mat 16:21-23; Yoh 4:34; 5:30; 6:38), dan dengan sadar mengerahkan diri untuk memenuhi tugas sebagaimana ditetapkan dalam Firman Bapaknya. (Mat 3:15; 5:17, 18; 13:10-17, 34, 35; 26:52-54; Mrk 1:14, 15; Luk 4:21) Penggenapan corak-corak nubuat lainnya tentulah tidak berada dalam kendali Yesus, karena beberapa di antaranya terjadi setelah kematiannya. (Mat 12:40; 26:55, 56; Yoh 18:31, 32; 19:23, 24, 36, 37) Catatan mengenai malam sebelum kematiannya jelas-jelas mengungkapkan upaya pribadi yang sangat kuat yang harus ia kerahkan untuk menundukkan kehendaknya sendiri di bawah kehendak yang lebih tinggi dari Pribadi yang lebih bijaksana daripada dirinya, yaitu Bapaknya. (Mat 26:36-44; Luk 22:42-44) Selain itu, tersingkap bahwa, sekalipun sempurna, ia sepenuhnya mengakui bahwa sebagai manusia ia bergantung pada Bapaknya, Allah Yehuwa, untuk memperoleh kekuatan sewaktu ia membutuhkannya.—Yoh 12:23, 27, 28; Ibr 5:7.

Oleh karena itu, Yesus perlu merenungkan banyak hal, dan perlu membentengi dirinya, selama 40 hari ia berpuasa (seperti yang Musa lakukan) di padang belantara setelah ia dibaptis dan diurapi. (Kel 34:28; Luk 4:1, 2) Di sana ia langsung berhadapan dengan pribadi yang seperti ular, yaitu Musuh Bapaknya. Dengan taktik yang serupa dengan yang digunakan di Eden, Setan si Iblis mencoba menggoda Yesus untuk mempertunjukkan sifat mementingkan diri, meninggikan diri, dan menyangkal kedudukan Bapaknya sebagai penguasa yang berdaulat. Tidak seperti Adam, Yesus (”Adam yang terakhir”) memelihara integritas dan, dengan terus menyebutkan kehendak Bapaknya yang dinyatakan, ia membuat Setan mundur, ”sampai kesempatan lain yang tepat”.—Luk 4:1-13; 1Kor 15:45.

Berbagai Pekerjaan dan Sifat Pribadinya. Karena ”kebaikan hati yang tidak selayaknya diperoleh dan kebenaran” harus datang melalui Yesus Kristus, ia harus pergi dan berada di antara orang-orang, agar mereka mendengar dia, melihat pekerjaan-pekerjaan dan sifat-sifatnya. Dengan demikian, mereka bisa mengenali dia sebagai sang Mesias dan beriman akan korbannya pada waktu ia mati demi mereka sebagai ”Anak Domba Allah”. (Yoh 1:17, 29) Ia sendiri mengunjungi banyak wilayah di Palestina, menempuh ratusan kilometer dengan berjalan kaki. Ia bercakap-cakap dengan orang-orang di tepi danau serta di lereng bukit, dan juga di kota-kota serta desa-desa, di sinagoga-sinagoga dan bait, di pasar-pasar, jalan-jalan serta rumah-rumah (Mat 5:1, 2; 26:55; Mrk 6:53-56; Luk 4:16; 5:1-3; 13:22, 26; 19:5, 6), berbicara kepada orang-orang secara kelompok dan perorangan, pria dan wanita, tua dan muda, kaya dan miskin.—Mrk 3:7, 8; 4:1; Yoh 3:1-3; Mat 14:21; 19:21, 22; 11:4, 5.

Tabel yang menyertai artikel ini memperlihatkan salah satu cara keempat catatan Injil tentang kehidupan Yesus di bumi dapat disusun secara kronologis. Tabel tersebut juga memberikan penjelasan tentang berbagai ”kampanye” atau perjalanan yang ia adakan selama tiga setengah tahun pelayanannya.

Yesus memberikan teladan bagi murid-muridnya dengan bekerja keras, bangun pagi-pagi sekali, melayani sampai larut malam. (Luk 21:37, 38; Mrk 11:20; 1:32-34; Yoh 3:2; 5:17) Lebih dari satu kali ia berdoa sepanjang malam, seperti yang dilakukannya pada malam sebelum ia menyampaikan Khotbah di Gunung. (Mat 14:23-25; Luk 6:12–7:10) Waktu lain, setelah melayani pada malam hari, ia bangun ketika hari masih gelap dan pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa. (Mrk 1:32, 35) Privasinya sering terganggu oleh orang banyak, namun ia tetap ”menerima mereka dengan baik hati serta berbicara kepada mereka mengenai kerajaan Allah”. (Luk 9:10, 11; Mrk 6:31-34; 7:24-30) Ia mengalami rasa lelah, haus, dan lapar, adakalanya ia tidak makan demi pekerjaan yang harus dirampungkan.—Mat 21:18; Yoh 4:6, 7, 31-34; bdk. Mat 4:2-4; 8:24, 25.

Pandangan yang seimbang terhadap hal materi. Namun, ia bukan petapa yang mempraktekkan penyangkalan diri sampai pada tingkat yang ekstrem tanpa mempedulikan situasi yang ada. (Luk 7:33, 34) Ia menerima banyak undangan makan, bahkan perjamuan, mengunjungi rumah orang-orang kaya. (Luk 5:29; 7:36; 14:1; 19:1-6) Ia menambah kenikmatan pada suatu pesta perkawinan dengan mengubah air menjadi anggur yang bermutu tinggi. (Yoh 2:1-10) Lagi pula, ia menghargai kebaikan yang dilakukan untuknya. Ketika Yudas menunjukkan kemarahan sewaktu saudara perempuan Lazarus, Maria, menggunakan satu pon minyak wangi (bernilai lebih dari $220, atau kira-kira upah pekerja selama satu tahun) untuk mengurapi kaki Yesus dan Yudas menyatakan keprihatinan terhadap orang miskin yang bisa menerima manfaat jika minyak tersebut dijual, Yesus berkata, ”Biarkanlah dia, agar dia menjalankan kebiasaan ini mengingat hari penguburanku. Karena orang miskin selalu ada bersamamu, tetapi aku tidak akan selalu ada bersamamu.” (Yoh 12:2-8; Mrk 14:6-9) Pakaian dalam yang ia kenakan sewaktu ditangkap, yang ”ditenun dari atas sampai ke bawah”, jelas adalah pakaian yang bermutu tinggi. (Yoh 19:23, 24) Meskipun demikian, Yesus selalu menaruh hal-hal rohani di tempat pertama dan tidak pernah terlalu khawatir akan hal-hal materi, seperti nasihatnya kepada orang lain.—Mat 6:24-34; 8:20; Luk 10:38-42; bdk. Flp 4:10-12.

Pembebas yang berani. Keberanian yang besar, kejantanan, dan kekuatan tampak jelas dalam seluruh pelayanannya. (Mat 3:11; Luk 4:28-30; 9:51; Yoh 2:13-17; 10:31-39; 18:3-11) Seperti Yosua, Raja Daud, dan yang lain-lainnya, Yesus adalah pejuang demi perkara-perkara Allah dan demi para pencinta keadilbenaran. Sebagai ’benih’ yang dijanjikan, ia harus menghadapi permusuhan dari ’benih ular’ dan bertarung dengan mereka. (Kej 3:15; 22:17) Ia secara aktif berperang melawan hantu-hantu dan pengaruh mereka atas pikiran dan hati manusia. (Mrk 5:1-13; Luk 4:32-36; 11:19-26; bdk. 2Kor 4:3, 4; Ef 6:10-12.) Para pemimpin agama yang munafik memperlihatkan bahwa mereka sebenarnya menentang kedaulatan dan kehendak Allah. (Mat 23:13, 27, 28; Luk 11:53, 54; Yoh 19:12-16) Yesus mengalahkan mereka dengan telak dalam serangkaian perbantahan. Ia mengayunkan ”pedang roh”, yaitu Firman Allah, dengan kekuatan, pengendalian yang sempurna, dan strategi—menangkis argumen-argumen halus dan pertanyaan-pertanyaan menjebak yang diajukan para penentangnya, memojokkan mereka atau menghadapkan mereka pada suatu dilema. (Mat 21:23-27; 22:15-46) Tanpa gentar ia menyingkapkan siapa mereka sebenarnya: pengajar tradisi manusia dan formalitas, pemimpin buta, generasi ular berbisa, dan anak-anak Musuh Allah, yang adalah pemimpin hantu-hantu dan pendusta yang suka membunuh.—Mat 15:12-14; 21:33-41, 45, 46; 23:33-35; Mrk 7:1-13; Yoh 8:40-45.

Dalam semua hal ini, Yesus tidak pernah bertindak sembrono, tidak mencari-cari masalah, dan menghindari bahaya yang tidak perlu. (Mat 12:14, 15; Mrk 3:6, 7; Yoh 7:1, 10; 11:53, 54; bdk. Mat 10:16, 17, 28-31.) Keberaniannya berdasarkan iman. (Mrk 4:37-40) Ia tidak kehilangan pengendalian diri namun tetap tenang ketika direndahkan dan diperlakukan dengan buruk, dengan ”mempercayakan dirinya kepada pribadi yang menghakimi dengan adil-benar”.—1Ptr 2:23.

Dengan perjuangannya yang berani demi kebenaran dan dengan membawa terang kepada orang-orang mengenai maksud-tujuan Allah, Yesus, sebagai pribadi yang lebih besar daripada Musa, memenuhi peranan dalam nubuat sebagai Pembebas. Ia mengumumkan kebebasan bagi para tawanan. (Yes 42:1, 6, 7; Yer 30:8-10; Yes 61:1) Sekalipun banyak orang menahan diri karena alasan-alasan yang mementingkan diri dan karena takut kepada kalangan yang berkuasa (Yoh 7:11-13; 9:22; 12:42, 43), yang lain-lainnya memperoleh keberanian untuk melepaskan diri dari kungkungan ketidaktahuan dan ketundukan seperti budak kepada para pemimpin agama palsu dan harapan palsu. (Yoh 9:24-39; bdk. Gal 5:1.) Sebagaimana raja-raja Yehuda yang setia mengadakan kampanye untuk melenyapkan ibadat palsu dari wilayah mereka (2Taw 15:8; 17:1, 4-6; 2Raj 18:1, 3-6), pelayanan Yesus, Raja Mesianik Allah, mendatangkan kehancuran atas agama palsu pada zamannya.—Yoh 11:47, 48.

Untuk keterangan lebih lanjut mengenai pelayanan Yesus Kristus di bumi, lihat PETA, Jil. 2, hlm. 540, 541.

Perasaan yang dalam dan kehangatan. Tetapi Yesus juga adalah pria yang memiliki kehangatan perasaan, suatu tuntutan untuk melayani sebagai Imam Besar Allah. Kesempurnaannya tidak membuat dia terlalu kritis atau arogan dan bersifat mendominasi (seperti orang-orang Farisi) terhadap orang-orang tidak sempurna yang terbebani dosa, yang ada di sekelilingnya. (Mat 9:10-13; 21:31, 32; Luk 7:36-48; 15:1-32; 18:9-14) Bahkan anak-anak tidak merasa canggung berada di dekatnya, dan ketika menggunakan seorang anak sebagai contoh, ia tidak hanya menyuruh si anak berdiri di depan murid-muridnya, tetapi juga ”merangkulnya”. (Mrk 9:36; 10:13-16) Ia terbukti sebagai teman sejati dan rekan yang penyayang bagi para pengikutnya, dengan ”mengasihi mereka sampai ke akhir”. (Yoh 13:1; 15:11-15) Ia tidak menggunakan wewenangnya untuk suka menuntut dan menambah beban orang-orang tetapi, sebaliknya, ia berkata, ”Marilah kepadaku, kamu semua yang berjerih lelah . . . aku akan menyegarkan kamu.” Para muridnya mendapati dia ”berwatak lembut dan rendah hati”, kuknya nyaman dan tanggungannya ringan.—Mat 11:28-30.

Tugas seorang imam mencakup memelihara kesehatan jasmani dan rohani umatnya. (Im 13-15) Rasa kasihan dan iba hati menggerakkan Yesus untuk membantu orang-orang yang menderita karena sakit, buta, dan berbagai kesukaran lainnya. (Mat 9:36; 14:14; 20:34; Luk 7:11-15; bdk. Yes 61:1.) Kematian sahabatnya, Lazarus, dan kesedihan yang diakibatkannya atas saudara-saudara perempuan Lazarus membuat Yesus ’mengerang dan meneteskan air mata’. (Yoh 11:32-36) Dengan demikian, sebagai gambaran pendahuluan, Yesus sang Mesias ’memikul penyakit dan menanggung rasa sakit’ orang-orang lain, dan melakukan semua itu dengan mengerahkan kuasa dari dirinya. (Yes 53:4; Luk 8:43-48) Ia melakukannya bukan untuk menggenapi nubuat semata melainkan karena ’ia mau’. (Mat 8:2-4, 16, 17) Terlebih penting lagi, ia memberi mereka kesehatan rohani dan pengampunan dosa, karena ia diberi wewenang untuk melakukannya mengingat bahwa, sebagai sang Kristus, ia telah ditetapkan untuk menyediakan korban tebusan, dan sebenarnya sedang menjalani pembaptisan ke dalam kematian yang akan berakhir di tiang siksaan.—Yes 53:4-8, 11, 12; bdk. Mat 9:2-8; 20:28; Mrk 10:38, 39; Luk 12:50.

”Penasihat yang Menakjubkan.” Imam mempunyai tanggung jawab untuk mendidik umat tentang hukum dan kehendak Allah. (Mal 2:7) Selain itu, sebagai raja Mesianik, yakni ’ranting yang keluar dari tunggul Isai [bapak Daud]’ yang dinubuatkan, Yesus harus memanifestasikan ’roh Yehuwa dalam hal hikmat, nasihat, keperkasaan, pengetahuan, serta takut akan Yehuwa’. Ia akan mempertunjukkan ”kesenangan” sebagai hasil takut akan Yehuwa. (Yes 11:1-3) Hikmat yang tak tertandingi yang terdapat dalam ajaran-ajaran Yesus, pribadi yang ”lebih daripada Salomo” (Mat 12:42), adalah salah satu bukti yang paling ampuh bahwa ia memang adalah Putra Allah dan bahwa catatan-catatan Injil tidak mungkin semata-mata hasil karya pikiran atau imajinasi manusia yang tidak sempurna.

Yesus membuktikan diri sebagai ’Penasihat Menakjubkan’ (Yes 9:6) yang dijanjikan karena pengetahuannya akan Firman dan kehendak Allah, pengertiannya akan sifat manusia, kesanggupannya untuk memahami inti pertanyaan serta permasalahan, dan dengan memberikan jalan keluar atas problem-problem kehidupan sehari-hari. Khotbah di Gunung yang terkenal adalah contoh utama mengenai hal ini. (Mat 5-7) Melalui nasihat-nasihatnya dalam khotbah tersebut, ia memperlihatkan jalan menuju kebahagiaan sejati, caranya menyelesaikan pertikaian, menghindari perbuatan amoral, berurusan dengan orang-orang yang memperlihatkan sikap bermusuhan, mempraktekkan keadilbenaran yang bebas dari kemunafikan; ia juga memperlihatkan sikap yang benar terhadap hal-hal materi dalam kehidupan, keyakinan akan kemurahan hati Allah, peraturan emas untuk hubungan yang benar dengan orang lain, sarana untuk mendeteksi penipuan keagamaan, dan caranya membangun masa depan yang aman. Kumpulan orang ”terpukau oleh cara ia mengajar; sebab ia mengajar mereka sebagai seorang yang memiliki wewenang, dan tidak seperti para penulis mereka”. (Mat 7:28, 29) Setelah kebangkitannya ia terus menjadi tokoh kunci dalam saluran komunikasi Yehuwa dengan manusia.—Pny 1:1.

Guru Agung. Cara mengajarnya sangat efektif. (Yoh 7:45, 46) Ia mengemukakan hal-hal yang sangat berbobot dan mendalam dengan sederhana, singkat, dan jelas. Untuk menyampaikan pokok-pokok tertentu, ia menggunakan ilustrasi tentang hal-hal yang dikenal baik oleh para pendengarnya (Mat 13:34, 35)—oleh para nelayan (Mat 13:47, 48), gembala (Yoh 10:1-17), petani (Mat 13:3-9), tukang bangunan (Mat 7:24-27; Luk 14:28-30), pedagang (Mat 13:45, 46), budak atau majikan (Luk 16:1-9), ibu rumah tangga (Mat 13:33; Luk 15:8), atau siapa pun (Mat 6:26-30). Hal-hal sederhana, seperti roti, air, garam, kirbat anggur, pakaian tua, digunakan untuk melambangkan hal-hal yang sangat penting, sebagaimana semuanya itu digunakan dengan cara serupa dalam Kitab-Kitab Ibrani. (Yoh 6:31-35, 51; 4:13, 14; Mat 5:13; Luk 5:36-39) Logikanya, yang sering dinyatakan melalui analogi, menangkis keberatan-keberatan yang menyesatkan dan menaruh berbagai hal dalam perspektif yang benar. (Mat 16:1-3; Luk 11:11-22; 14:1-6) Ia menujukan beritanya terutama kepada hati manusia, dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang tajam dan menggugah mereka untuk berpikir, mengambil kesimpulan sendiri, memeriksa motif mereka, serta membuat keputusan. (Mat 16:5-16; 17:24-27; 26:52-54; Mrk 3:1-5; Luk 10:25-37; Yoh 18:11) Ia tidak berupaya memenangkan massa tetapi berupaya menggugah hati orang-orang yang sungguh-sungguh lapar akan kebenaran dan keadilbenaran.—Mat 5:3, 6; 13:10-15.

Sekalipun ia bertimbang rasa terhadap keterbatasan pengertian para pendengarnya dan bahkan murid-muridnya (Mrk 4:33) dan sekalipun ia perlu menggunakan daya pengamatan dalam menentukan seberapa banyak keterangan yang dapat diberikan kepada mereka (Yoh 16:4, 12), ia tidak pernah ’mengencerkan’ berita Allah demi mendapatkan popularitas atau perkenan. Ia berbicara dengan terus terang, bahkan terkadang sangat blak-blakan. (Mat 5:37; Luk 11:37-52; Yoh 7:19; 8:46, 47) Tema beritanya ialah, ”Bertobatlah, . . . sebab kerajaan surga sudah dekat.” (Mat 4:17) Seperti halnya nabi-nabi Yehuwa pada masa-masa awal, ia secara gamblang memberi tahu orang-orang tentang ”pemberontakan mereka, dan kepada keturunan Yakub, dosa-dosa mereka” (Yes 58:1; Mat 21:28-32; Yoh 8:24), mengarahkan mereka ke ’gerbang sempit dan jalan sesak’ yang akan membawa mereka kembali kepada perkenan Allah dan kepada kehidupan.—Mat 7:13, 14.

”Pemimpin dan Komandan.” Yesus mempertunjukkan kecakapannya sebagai ”pemimpin dan komandan” dan juga sebagai ”saksi bagi kelompok-kelompok bangsa”. (Yes 55:3, 4; Mat 23:10; Yoh 14:10, 14; bdk. 1Tim 6:13, 14.) Ketika waktunya tiba, yaitu beberapa bulan setelah memulai pelayanannya, ia datang kepada beberapa orang yang sudah ia kenal dan mengundang mereka, ”Jadilah pengikutku.” Tanpa keraguan, pria-pria meninggalkan bisnis perikanan dan pekerjaan di kantor pajak untuk menyambut undangan itu. (Mat 4:18-22; Luk 5:27, 28; bdk. Mz 110:3.) Para wanita memberikan waktu, upaya, serta harta benda untuk memenuhi kebutuhan Yesus dan para pengikutnya.—Mrk 15:40, 41; Luk 8:1-3.

Kelompok kecil ini menjadi cikal bakal suatu ”bangsa” yang baru, yakni Israel rohani. (1Ptr 2:7-10) Yesus berdoa semalaman kepada Bapaknya guna memohon bimbingan sebelum memilih 12 rasul, yang, apabila setia, akan menjadi pilar-pilar bangsa baru itu, seperti ke-12 putra Yakub bagi Israel jasmani. (Luk 6:12-16; Ef 2:20; Pny 21:14) Sebagaimana Musa memiliki 70 pria yang menyertainya sebagai wakil-wakil bangsa, Yesus belakangan menugasi lebih dari 70 orang murid untuk melakukan pelayanan. (Bil 11:16, 17; Luk 10:1) Setelah itu Yesus memberikan perhatian khusus kepada murid-murid tersebut dengan mengajar dan memberikan petunjuk-petunjuk kepada mereka, bahkan Khotbah di Gunung disampaikan terutama untuk mereka, sebagaimana terlihat dari isi khotbahnya.—Mat 5:1, 2, 13-16; 13:10, 11; Mrk 4:34; 7:17.

Ia sepenuhnya menerima tanggung jawab kekepalaan, mengambil pimpinan dalam setiap hal (Mat 23:10; Mrk 10:32), memberi murid-muridnya beberapa tanggung jawab dan tugas selain pekerjaan pemberitaan yang mereka lakukan (Luk 9:52; 19:29-35; Yoh 4:1-8; 12:4-6; 13:29; Mrk 3:9; 14:12-16), memberikan anjuran dan teguran (Yoh 16:27; Luk 10:17-24; Mat 16:22, 23). Ia adalah seorang komandan, dan salah satu perintah utamanya adalah agar mereka ’mengasihi satu sama lain sebagaimana dia telah mengasihi mereka’. (Yoh 15:10-14) Ia dapat mengendalikan kumpulan orang yang jumlahnya ribuan. (Mrk 6:39-46) Pelatihan yang berguna dan yang terus ia berikan kepada murid-muridnya, yang kebanyakan memiliki pendidikan dan kedudukan rendah, sangatlah efektif. (Mat 10:1–11:1; Mrk 6:7-13; Luk 8:1) Belakangan, orang-orang yang berkedudukan dan berpendidikan tinggi mau tidak mau merasa heran mendengar perkataan para rasul yang ampuh dan tegas; dan sebagai ”penjala manusia”, mereka menikmati hasil-hasil yang luar biasa—ribuan orang menyambut pemberitaan mereka. (Mat 4:19; Kis 2:37, 41; 4:4, 13; 6:7) Pemahaman mereka akan prinsip-prinsip Alkitab, yang dengan cermat ditanamkan oleh Yesus di dalam hati mereka, dapat membuat mereka menjadi gembala-gembala yang sejati bagi kawanan pada tahun-tahun belakangan. (1Ptr 5:1-4) Dengan demikian, dalam jangka waktu tiga setengah tahun yang singkat, Yesus telah meletakkan fondasi yang kuat untuk sidang jemaat internasional yang bersatu yang memiliki ribuan anggota dari berbagai ras.

Penyedia yang Andal dan Hakim yang Adil-Benar. Pemerintahannya akan mendatangkan kemakmuran jauh melebihi kemakmuran Salomo; hal ini nyata dari kesanggupannya sewaktu memberikan petunjuk kepada murid-muridnya dalam kegiatan menangkap ikan sehingga mendapatkan hasil yang sangat berlimpah. (Luk 5:4-9; bdk. Yoh 21:4-11.) Pemberian makan kepada ribuan orang oleh pria yang lahir di Betlehem (artinya ”Rumah Roti”) ini, juga diubahnya air menjadi anggur yang bermutu, merupakan gambaran pendahuluan yang kecil dari perjamuan yang kelak akan disediakan oleh Kerajaan Mesianik Allah ”bagi semua bangsa”. (Yes 25:6; bdk. Luk 14:15.) Pemerintahannya tidak hanya akan mengakhiri kemiskinan dan kelaparan tetapi bahkan akan membuat ’kematian ditelan’.—Yes 25:7, 8.

Ada banyak alasan untuk juga percaya bahwa keadilan dan penghakiman yang adil-benar akan dihasilkan oleh pemerintahannya, selaras dengan nubuat-nubuat Mesianik. (Yes 11:3-5; 32:1, 2; 42:1) Ia memperlihatkan respek yang sangat dalam terhadap hukum, khususnya hukum Allah dan Bapaknya, dan juga terhadap hukum ”kalangan berwenang yang lebih tinggi” yang diizinkan berfungsi di bumi dalam bentuk pemerintahan-pemerintahan sekuler. (Rm 13:1; Mat 5:17-19; 22:17-21; Yoh 18:36) Ia menolak upaya untuk memaksanya memasuki arena politik pada waktu itu dengan ”menjadikannya raja” melalui permintaan masyarakat. (Yoh 6:15; bdk. Luk 19:11, 12; Kis 1:6-9.) Ia tidak melangkahi batas-batas kewenangannya. (Luk 12:13, 14) Tidak seorang pun dapat ’membuktikan dia bersalah karena dosa’; hal ini bukan semata-mata karena ia dilahirkan sempurna melainkan karena ia tidak pernah lalai menaati Firman Allah. (Yoh 8:46, 55) Keadilbenaran dan kesetiaan adalah bagaikan sabuk di pinggangnya. (Yes 11:5) Kasihnya akan keadilbenaran beriringan dengan kebenciannya terhadap kefasikan, kemunafikan, serta penipuan, dan juga kemarahan terhadap orang-orang yang serakah dan tidak berperasaan akan penderitaan orang lain. (Mat 7:21-27; 23:1-8, 25-28; Mrk 3:1-5; 12:38-40; bdk. ay. 41-44.) Orang-orang kecil dan lembut hati dapat berbesar hati, karena pemerintahannya akan menghapus ketidakadilan dan penindasan.—Yes 11:4; Mat 5:5.

Ia benar-benar memahami prinsip-prinsip, arti dan maksud sebenarnya dari hukum-hukum Allah, dengan menandaskan ”perkara-perkara yang lebih berbobot” dari hukum-hukum itu, yakni ”keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan”. (Mat 12:1-8; 23:23, 24) Ia tidak berat sebelah, tidak bersikap pilih kasih, sekalipun ia memiliki kasih sayang yang khusus bagi salah satu muridnya. (Mat 18:1-4; Mrk 10:35-44; Yoh 13:23; bdk. 1Ptr 1:17.) Sekalipun salah satu tindakan terakhirnya sewaktu ia sedang sekarat pada tiang siksaan adalah memperlihatkan keprihatinan kepada ibu jasmaninya, ikatan keluarga jasmani tidak pernah lebih diprioritaskan daripada hubungannya dengan orang lain secara rohani. (Mat 12:46-50; Luk 11:27, 28; Yoh 19:26, 27) Sebagaimana dinubuatkan, ia menangani masalah secara tuntas, tidak pernah ”berdasarkan apa yang tampak di matanya saja, ataupun menegur menurut apa yang didengar oleh telinganya saja”. (Yes 11:3; bdk. Yoh 7:24.) Ia dapat melihat ke dalam hati manusia, memahami pikiran, penalaran, dan motif mereka. (Mat 9:4; Mrk 2:6-8; Yoh 2:23-25) Dan ia terus mencondongkan telinganya kepada Firman Allah dan mencari, bukan kehendaknya sendiri, melainkan kehendak Bapaknya; hal ini menjamin bahwa, sebagai hakim yang dilantik Allah, keputusan-keputusannya akan selalu benar dan adil-benar.—Yes 11:4; Yoh 5:30.

Nabi yang Luar Biasa. Yesus memenuhi persyaratan seorang nabi seperti Musa, dan bahkan lebih besar daripada Musa. (Ul 18:15, 18, 19; Mat 21:11; Luk 24:19; Kis 3:19-23; bdk. Yoh 7:40.) Ia menubuatkan penderitaan dan cara kematiannya sendiri, tercerai-berainya murid-murid, pengepungan Yerusalem, dan kehancuran total kota itu beserta baitnya. (Mat 20:17-19; 24:1–25:46; 26:31-34; Luk 19:41-44; 21:20-24; Yoh 13:18-27, 38) Sehubungan dengan peristiwa-peristiwa yang ia sebutkan belakangan itu, ia juga menyampaikan nubuat-nubuat yang akan digenapi pada masa kehadirannya, yaitu sewaktu Kerajaannya berfungsi secara aktif. Dan, seperti nabi-nabi masa awal, ia mengadakan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat sebagai bukti dari Allah bahwa ia diutus oleh-Nya. Bukti kenabiannya melebihi yang dimiliki Musa—ia meredakan L. Galilea yang bergelora; berjalan di atas air (Mat 8:23-27; 14:23-34); menyembuhkan orang buta, tuli, dan lumpuh, serta orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan yang sangat parah seperti kusta; dan bahkan membangkitkan orang mati.—Luk 7:18-23; 8:41-56; Yoh 11:1-46.

Teladan kasih yang terunggul. Sifat yang paling menonjol dari antara semua aspek kepribadian Yesus adalah kasih—terutama kasih Yesus bagi Bapaknya dan juga bagi sesama makhluk. (Mat 22:37-39) Oleh karena itu, kasih adalah tanda pengenal khas murid-muridnya. (Yoh 13:34, 35; bdk. 1Yoh 3:14.) Kasihnya bukanlah pernyataan sentimentil. Sekalipun menyatakan perasaan yang dalam, Yesus selalu dibimbing oleh prinsip (Ibr 1:9); Yesus paling peduli akan kehendak Bapaknya. (Bdk. Mat 16:21-23.) Ia membuktikan kasih kepada Allah dengan menjalankan perintah-perintah Allah (Yoh 14:30, 31; bdk. 1Yoh 5:3) dan dengan berupaya memuliakan Bapaknya setiap waktu. (Yoh 17:1-4) Pada malam terakhir dengan murid-muridnya, ia berbicara tentang kasih dan mengasihi hampir sebanyak tiga puluh kali, tiga kali mengulangi perintah agar mereka ”mengasihi satu sama lain”. (Yoh 13:34; 15:12, 17) Ia memberi tahu mereka, ”Tidak seorang pun mempunyai kasih yang lebih besar daripada ini, bahwa seseorang menyerahkan jiwanya demi kepentingan sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-sahabatku jika kamu melakukan apa yang aku perintahkan kepadamu.”—Yoh 15:13, 14; bdk. Yoh 10:11-15.

Sebagai bukti kasihnya kepada Allah dan kepada umat manusia yang tidak sempurna, ia kemudian membiarkan dirinya ”dibawa seperti seekor domba ke pembantaian”, merelakan diri untuk dicobai, ditampar, ditinju, diludahi, disesah dengan cambuk, dan akhirnya, dipakukan pada tiang di antara penjahat-penjahat. (Yes 53:7; Mat 26:67, 68; 27:26-38; Mrk 14:65; 15:15-20; Yoh 19:1) Melalui kematiannya sebagai korban ia mencontohkan dan menyatakan kasih Allah kepada manusia (Rm 5:8-10; Ef 2:4, 5) dan memungkinkan manusia untuk secara mutlak percaya akan kasihnya sendiri yang tak terpatahkan bagi murid-muridnya yang setia.—Rm 8:35-39; 1Yoh 3:16-18.

Mengingat bahwa catatan tertulis, yang memang singkat (Yoh 21:25), memberikan gambaran yang begitu agung tentang Putra Allah, pastilah kenyataannya jauh lebih agung lagi. Teladan kerendahan hati dan kebaikannya yang menghangatkan hati, yang disertai kekuatan demi keadilbenaran dan keadilan, memberikan keyakinan bahwa pemerintahan Kerajaannya akan benar-benar menjadi apa yang selama berabad-abad telah didambakan oleh orang-orang beriman, dan pada kenyataannya hal itu akan jauh melebihi harapan tertinggi yang pernah mereka miliki. (Rm 8:18-22) Dalam segala hal, ia mencontohkan standar yang sempurna bagi para muridnya, standar yang jauh berbeda daripada standar para penguasa duniawi. (Mat 20:25-28; 1Kor 11:1; 1Ptr 2:21) Ia, yang adalah Tuan mereka, mencuci kaki mereka. Dengan demikian, ia menetapkan pola dalam hal memberikan perhatian, bertimbang rasa, dan memperlihatkan kerendahan hati yang akan menjadi ciri sidang para pengikutnya yang terurap, bukan hanya di bumi melainkan juga di surga. (Yoh 13:3-15) Sekalipun mereka duduk di takhta surgawi yang tinggi dan juga memperoleh ”semua wewenang di surga dan di bumi” bersama Yesus selama Pemerintahan Seribu Tahun Kristus, mereka harus dengan rendah hati memperhatikan dan dengan pengasih melayani kebutuhan rakyatnya di bumi.—Mat 28:18; Rm 8:17; 1Ptr 2:9; Pny 1:5, 6; 20:6; 21:2-4.

Dinyatakan Adil-Benar dan Layak. Melalui haluan integritas kepada Allah sepanjang kehidupannya, termasuk pengorbanannya, Yesus Kristus melaksanakan ”satu tindakan yang menghasilkan pembenaran” yang membuktikan bahwa ia memenuhi syarat untuk melayani sebagai Raja-Imam surgawi yang diurapi Allah. (Rm 5:17, 18) Melalui kebangkitannya dari kematian kepada kehidupan sebagai Putra surgawi Allah, ia ”dinyatakan adil-benar sebagai roh”. (1Tim 3:16) Makhluk-makhluk surgawi mengumumkan bahwa ia ”layak menerima kuasa, kekayaan, hikmat, kekuatan, kehormatan, kemuliaan, dan keagungan”, sebagai pribadi yang bagaikan singa demi keadilan dan dalam hal penghukuman dan juga bagaikan anak domba dalam hal menyerahkan dirinya sebagai korban untuk menyelamatkan orang lain. (Pny 5:5-13) Ia telah mencapai tujuan utamanya untuk menyucikan nama Bapaknya. (Mat 6:9; 22:36-38) Hal ini ia lakukan, bukan hanya dengan menggunakan nama tersebut, melainkan dengan menyingkapkan Pribadi di balik nama itu, dengan mempertunjukkan sifat-sifat mulia Bapaknya—kasih, hikmat, keadilan, serta kuasa-Nya—yang memungkinkan orang-orang mengetahui atau mengalami makna nama Allah. (Mat 11:27; Yoh 1:14, 18; 17:6-12) Dan di atas segalanya, ia melakukan hal itu dengan menjunjung kedaulatan universal Yehuwa, dengan memperlihatkan bahwa pemerintahan Kerajaannya sendiri akan didasarkan dengan kukuh atas Sumber Tertinggi wewenang tersebut. Oleh karena itu, mengenai dia dapat dikatakan, ”Allah adalah takhtamu, kekal selama-lamanya.”—Ibr 1:8.

Dengan demikian, Tuan Yesus Kristus adalah ”Wakil Utama dan Penyempurna iman kita”. Dengan menggenapi nubuat dan menyingkapkan maksud-tujuan Allah untuk masa depan, dan juga melalui apa yang ia katakan serta lakukan, dan melalui identitasnya, ia menetapkan fondasi yang kukuh, yang di atasnya iman sejati harus dibangun.—Ibr 12:2; 11:1.

sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar