Minggu, 24 November 2013

Natal-itukah cara untuk menyambut Yesus ???

Natal—Itukah Cara untuk Menyambut Yesus?

KELAHIRAN sang Juruselamat, Mesias yang telah lama dinanti-nantikan, benar-benar merupakan saat untuk bersukacita. ”Jangan takut,” demikian pemberitahuan seorang malaikat kepada para gembala di sekitar Betlehem, ”Aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan.” Sejumlah besar malaikat bersatu-padu, memuji Allah, ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.” (Lukas 2:10-14) Beberapa orang mungkin menyimpulkan bahwa umat kristiani harus meniru para malaikat dalam menyatakan sukacita atas kedatangan Kristus ke bumi pada waktu itu.

Ini bukanlah catatan Alkitab pertama mengenai para malaikat yang meluap dalam nyanyian pujian. Pada waktu dasar bumi diletakkan, ”bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai”. (Ayub 38:4-7) Tanggal persisnya kejadian ini tidak dicatat dalam Alkitab. (Kejadian 1:1, 14-18) Bagaimanapun besarnya sukacita pada waktu kejadian itu, umat kristiani hendaknya tidak beranggapan bahwa karena para malaikat bersorak-sorai, maka mereka harus merayakan hari penciptaan bumi setiap tahun dan mungkin menerima suatu perayaan kafir untuk memperingati kejadian itu.

Namun, itulah yang dilakukan orang-orang yang merayakan Natal terhadap kelahiran Kristus Yesus. Bila diperiksa setiap ensiklopedi yang paling terpercaya di bawah pokok ”Natal”, terbukti bahwa tanggal kelahiran Kristus tidak diketahui. (Lihat kotak.) Alkitab tidak menyatakan apa-apa tentang tanggal tersebut.

Berpautlah pada Ibadat Sejati--natal.



 
Apa yang Alkitab ajarkan tentang pemujaan patung dan leluhur?

Apa pandangan orang Kristen mengenai hari raya agama?

Bagaimana caranya menjelaskan kepercayaan Anda tanpa menyinggung perasaan orang?

KATAKANLAH Anda baru saja tahu bahwa seluruh lingkungan tempat tinggal Anda telah tercemar. Seseorang diam-diam telah membuang limbah beracun di daerah itu, dan sekarang kehidupan semua orang terancam bahaya. Apa yang akan Anda lakukan? Sebisa mungkin, Anda tentu akan pindah dari sana. Tetapi, setelah itu, Anda masih dihantui pertanyaan penting, ’Apakah saya sudah terkena racun?’

2 Demikian pula keadaannya dengan agama palsu. Alkitab mengajarkan bahwa agama seperti itu sudah tercemar dengan ajaran dan cara beribadat yang najis. (2 Korintus 6:17) Itulah sebabnya mengapa begitu penting untuk keluar dari ”Babilon Besar”, imperium agama palsu sedunia. (Penyingkapan 18:2, 4) Sudahkah Anda melakukannya? Jika sudah, Anda patut dipuji. Tetapi, ada lagi yang dituntut selain memutuskan hubungan dengan agama palsu. Anda selanjutnya harus bertanya kepada diri sendiri, ’Apakah masih ada sisa-sisa agama palsu yang mencemari diri saya?’ Pertimbangkan beberapa contoh.

Asal usul Natal zaman Modern

Asal Usul Natal Zaman Modern

BAGI jutaan orang di seluruh dunia, Natal adalah saat yang penuh sukacita dalam setahun. Inilah waktunya untuk makan-makan, menjalankan tradisi turun-temurun, dan menikmati kebersamaan dalam keluarga. Hari Natal adalah juga kesempatan bagi sahabat dan sanak saudara untuk bertukar kartu dan hadiah.

Akan tetapi, 150 tahun yang lalu, Natal sebenarnya merupakan hari raya yang sangat berbeda. Dalam bukunya, The Battle for Christmas, profesor sejarah Stephen Nissenbaum menulis, ”Natal . . . adalah saat untuk bermabuk-mabukan karena aturan-aturan yang menuntun perilaku manusia dalam masyarakat untuk sementara diabaikan demi ’karnaval’, semacam Mardi Gras di bulan Desember.”

Bagi orang yang sangat menghormati Natal, gambaran ini mungkin mengganggu perasaannya. Mengapa orang-orang sampai hati menodai hari raya yang bertujuan memperingati kelahiran Putra Allah? Jawabannya mungkin mengejutkan saudara.

Dasar yang Keliru

Sejak kemunculannya pada abad keempat, Natal telah diliputi oleh berbagai kontroversi. Misalnya, timbul pertanyaan tentang hari kelahiran Yesus. Karena Alkitab tidak memerinci hari maupun bulan kelahiran Yesus, berbagai tanggal telah diajukan. Pada abad ketiga, sekelompok teolog Mesir menetapkan tanggal 20 Mei sebagai hari kelahiran Yesus, sedangkan para teolog lainnya lebih menyukai tanggal-tanggal yang lebih awal, seperti tanggal 28 Maret, 2 April, atau 19 April. Menjelang abad ke-18, kelahiran Yesus dikaitkan dengan setiap bulan dalam setahun! Kalau begitu, bagaimana tanggal 25 Desember yang akhirnya terpilih?

Kebanyakan sarjana setuju bahwa tanggal 25 Desember ditetapkan oleh Gereja Katolik sebagai hari kelahiran Yesus. Mengapa? ”Kemungkinan besar alasannya adalah,” kata The New Encyclopædia Britannica, ”orang-orang Kristen masa awal ingin agar tanggalnya bertepatan dengan tanggal festival kafir Romawi bagi ’hari lahir matahari yang tak tertaklukkan’.” Tetapi mengapa orang-orang Kristen yang dianiaya dengan kejam oleh orang-orang kafir selama lebih dari dua setengah abad tiba-tiba saja mengalah pada pihak yang menganiaya mereka?

Berbagai Perayaan yang Tidak Menyenangkan Allah

 
”Teruslah pastikan apa yang diperkenan Tuan.”—EFESUS 5:10.

”PARA penyembah yang benar,” kata Yesus, ”akan menyembah Bapak dengan roh dan kebenaran, karena, sesungguhnya, Bapak mencari orang-orang yang seperti itu supaya mereka menyembah dia.” (Yohanes 4:23) Pada waktu Yehuwa menemukan orang-orang seperti itu—sebagaimana Ia menemukan Saudara—Ia menarik mereka kepada-Nya dan kepada Putra-Nya. (Yohanes 6:44) Benar-benar suatu kehormatan! Tetapi, para pencinta kebenaran Alkitab harus ’terus memastikan apa yang diperkenan Tuan’, sebab Setan adalah penipu ulung.—Efesus 5:10; Penyingkapan 12:9.

2 Perhatikan apa yang terjadi di dekat Gunung Sinai ketika orang Israel meminta Harun membuatkan suatu allah untuk mereka. Harun dengan berat hati menuruti keinginan mereka, lalu membuat sebuah anak lembu emas tetapi dia secara tidak langsung menyatakan bahwa patung itu melambangkan Yehuwa. ”Besok ada perayaan bagi Yehuwa,” katanya. Apakah Yehuwa bersikap masa bodoh terhadap peleburan agama yang sejati dengan yang palsu? Tidak. Atas perintah-Nya, kira-kira tiga ribu penyembah berhala dibunuh. (Keluaran 32:1-6, 10, 28) Hikmahnya? Jika kita ingin tetap berada dalam kasih Allah, kita tidak boleh ”menyentuh apa pun yang najis” dan harus dengan sungguh-sungguh menjaga kebenaran tetap bersih dari unsur apa pun yang bersifat merusak.—Yesaya 52:11; Yehezkiel 44:23; Galatia 5:9.

Rabu, 20 November 2013

Neraka—Siksaan Kekal atau Kuburan Umum?

 

APAKAH saudara telah diberi tahu bahwa Bapa-Bapa Gereja masa awal, teolog-teolog abad pertengahan dan para Reformis menyatakan bahwa siksaan yang dialami di neraka bersifat kekal? Jika demikian, mungkin saudara akan terkejut bila mengetahui bahwa beberapa sarjana Alkitab yang sangat terpandang sekarang sedang menantang pandangan itu. Di Inggris, salah seorang dari antara mereka, John R. W. Stott, menulis bahwa ”Alkitab menunjuk ke arah pembinasaan, dan bahwa ’siksaan kekal secara sadar’ adalah suatu tradisi yang harus tunduk kepada wewenang tertinggi dari Alkitab.”—Essentials—A Liberal-Evangelical Dialogue.

Apa yang membuatnya menyimpulkan bahwa ajaran siksaan kekal tidak berdasarkan Alkitab?

Pelajaran Bahasa

Argumen pertamanya menyangkut bahasa. Ia menjelaskan bahwa bila Alkitab menunjuk kepada akhir dari keadaan terkutuk (”Gehena”; lihat kotak, halaman 8), buku itu sering menggunakan kosa kata ”pembinasaan”, dalam bahasa Yunani ”kata kerjanya adalah apollumi (membinasakan) dan kata bendanya adalah apòleia (pembinasaan)”. Apakah kata-kata ini mengacu kepada siksaan? Stott menjelaskan bahwa bila kata kerjanya bersifat aktif dan transitif, ”apollumi” berarti ”membunuh”. (Matius 2:13; 12:14; 21:41) Jadi, di Matius 10:28, yang dalam King James Version disebutkan bahwa Allah membinasakan ”jiwa maupun tubuh di dalam neraka”, gagasan yang terkandung adalah kebinasaan dalam kematian, bukan siksaan kekal. Di Matius 7:13, 14, Yesus membandingkan ”sesaklah . . . jalan yang menuju kepada kehidupan” dengan ”lebarlah . . . jalan yang menuju kepada kebinasaan”. Stott berkomentar, ”Oleh karena itu, akan tampak aneh jika orang-orang yang dikatakan mengalami kebinasaan ternyata tidak binasa.” Dengan alasan yang dapat dibenarkan, ia mencapai kesimpulan, ”Jika membunuh adalah mencabut kehidupan dari tubuh, maka neraka tampaknya berarti pencabutan kehidupan fisik maupun rohani, yaitu, menjadi tidak ada.”—Essentials, halaman 315-16.

Surga.


Definisi: Tempat kediaman Allah Yehuwa dan makhluk-makhluk roh yang setia; suatu alam yang tidak terlihat oleh mata manusia. Alkitab juga menggunakan istilah ”surga” dalam berbagai macam arti yang lain; misalnya: untuk menunjukkan Allah sendiri, organisasi-Nya yang terdiri dari makhluk-makhluk roh yang setia, suatu kedudukan perkenan ilahi, dan pemerintahan surgawi yang baru dan benar di bawah Yesus Kristus dan ahli-ahli waris lain bersamanya yang diberi kuasa oleh Yehuwa untuk memerintah.

Apakah kita sudah ada di alam roh sebelum dilahirkan sebagai manusia?

Yoh. 8:23: ”[Yesus Kristus berkata,] ’Kamu dari alam di bawah; aku dari alam di atas. Kamu dari dunia ini; aku bukan dari dunia ini.’” (Yesus memang datang dari alam roh. Namun, seperti Yesus katakan, orang lain tidak.)

Rm. 9:10-12: ”Ribka mengandung anak kembar . . . Sewaktu mereka belum dilahirkan ataupun mempraktekkan apa pun yang baik atau keji, supaya maksud-tujuan Allah berkenaan dengan pemilihan tetap bergantung, bukan pada perbuatan, tetapi pada Pribadi yang memanggil, kepada Ribka dikatakan, ’Yang lebih tua akan menjadi budak dari yang lebih muda.’” (Jika Yakub dan Esau yang kembar sebelumnya sudah hidup di alam roh, mereka tentu sudah mempunyai catatan mengenai perbuatan mereka di sana, bukan? Namun, mereka tidak mempunyai catatan seperti itu sampai mereka lahir sebagai manusia.)

Apakah semua orang baik masuk surga?

Kis. 2:34: ”Daud [yang disebut Alkitab sebagai ’seorang yang membuat hati Yehuwa senang’] tidak naik ke surga.”

Mat. 11:11: ”Dengan sungguh-sungguh aku mengatakan kepada kamu sekalian: Di antara mereka yang dilahirkan wanita tidak pernah tampil yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis; tetapi seseorang yang lebih kecil dalam kerajaan surga lebih besar daripada dia.” (Jadi, Yohanes tidak naik ke surga ketika ia meninggal.)

LANGIT DAN SURGA


 
Kata Ibrani sya·mayim (selalu jamak), yang diterjemahkan menjadi ”langit” atau ”surga”, tampaknya memiliki makna dasar tentang sesuatu yang tinggi atau mulia. (Kej 24:3; Mz 2:4; 103:11; Ams 25:3; Yes 55:9) Etimologi kata Yunani untuk langit dan surga (ou·ra·nos) tidak dapat dipastikan.



Langit. Cakupan makna langit secara keseluruhan terdapat dalam istilah bahasa aslinya. Konteks biasanya menyediakan keterangan yang cukup untuk menentukan bagian mana dari langit yang dimaksud.

Langit berupa atmosfer bumi. ”Langit” dapat memaksudkan seluruh atmosfer bumi; di sini embun dan embun beku terbentuk (Kej 27:28; Ayb 38:29), burung-burung terbang (Ul 4:17; Ams 30:19; Mat 6:26), angin berembus (Mz 78:26), kilat berkilau (Luk 17:24), dan awan melayang serta menurunkan hujan, salju, atau hujan batu (Yos 10:11; 1Raj 18:45; Yes 55:10; Kis 14:17). ”Langit” adakalanya memaksudkan kubah atau lengkungan yang tampak seolah-olah melingkungi bumi.—Mat 16:1-3; Kis 1:10, 11.
Daerah di atmosfer ini biasanya disamakan dengan ”angkasa” [Ibr., ra·qiaʽ]” yang dibentuk pada periode kedua penciptaan, sebagaimana diuraikan di Kejadian 1:6-8. Tampaknya, ”langit” inilah yang dimaksud dalam Kejadian 2:4; Keluaran 20:11; 31:17 sewaktu mengisahkan penciptaan ”langit dan bumi”.—Lihat ANGKASA.



Sewaktu angkasa berupa atmosfer terbentuk, permukaan air di bumi dipisahkan dari air lain di atas angkasa itu. Hal ini menjelaskan ungkapan yang digunakan sehubungan dengan Air Bah sedunia pada zaman Nuh, yakni ”pecahlah semua sumber air yang dalam dan sangat luas dan terbukalah pintu-pintu air di langit”. (Kej 7:11; bdk. Ams 8:27, 28.) Sewaktu Air Bah, air yang tertahan di atas angkasa tampaknya turun seolah-olah melewati saluran-saluran tertentu, tercurah dalam bentuk hujan. Sewaktu tempat penyimpanan air yang sangat besar ini telah mengosongkan diri, ”pintu-pintu air di langit” tersebut pun seolah-olah ”ditutup”.—Kej 8:2.

Senin, 18 November 2013

Kebenaran tentang Natal

 

APAKAH Anda memandang penting kebenaran rohani? Jika ya, mungkin Anda pernah mempertanyakan hal-hal ini: (1) Apakah Yesus memang lahir pada tanggal 25 Desember? (2) Siapakah ”orang-orang majus” dan apakah jumlahnya memang tiga orang? (3) ”Bintang” apa yang mengarahkan mereka kepada Yesus? (4) Apa hubungan Sinterklas dengan Yesus dan kelahirannya? (5) Bagaimana pandangan Allah tentang kebiasaan memberi hadiah atau, lebih tepatnya, tukar-menukar hadiah pada waktu Natal?

Sekarang, mari kita bahas pertanyaan-pertanyaan ini berdasarkan Alkitab dan fakta sejarah.
(1) Apakah Yesus Lahir pada Tanggal 25 Desember?

Kebiasaan: Menurut tradisi, kelahiran Yesus terjadi dan dirayakan pada 25 Desember. Ensiklopedi Indonesia menjelaskan bahwa Natal adalah pesta peringatan hari kelahiran Yesus di Betlehem.

Asal usulnya: ”Proses penetapan tanggal 25 Desember tidak berdasarkan Alkitab,” kata The Christmas Encyclopedia, ”tetapi dari perayaan kafir Romawi yang diadakan pada akhir tahun”, sekitar waktu titik balik matahari pada musim dingin di Belahan Bumi Utara. Salah satunya ialah perayaan Saturnalia, untuk menghormati Saturnus, dewa pertanian, ”dan perayaan gabungan untuk dua dewa matahari, Sol dari Roma dan Mitra dari Persia”, kata ensiklopedia yang sama. Hari lahir kedua dewa itu dirayakan pada tanggal 25 Desember, titik balik matahari pada musim dingin menurut kalender Julius.

Perayaan-perayaan kafir itu mulai ”dikristenkan” pada tahun 350, sewaktu Paus Julius I menyatakan 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus. ”Kelahiran Kristus ini perlahan-lahan diterima atau menggantikan semua ritus titik balik matahari lainnya,” kata Encyclopedia of Religion. ”Lambang-lambang matahari semakin digunakan untuk menggambarkan Kristus yang telah dibangkitkan (yang juga disebut Sol Invictus), dan lambang kuno lingkaran matahari . . . menjadi lingkaran cahaya di kepala para santo Kristen.”

Pandangan Alkitab-Alasan mengapa Natal bukan bagi umat Kristiani.

Pandangan Alkitab

Alasan Mengapa Natal Bukan bagi Umat Kristiani

’NATAL dilarang! Siapa pun yang merayakannya atau bahkan tinggal di rumah, tidak bekerja pada hari Natal akan dijatuhi hukuman!’

Hal yang tampak aneh ini sungguh-sungguh terjadi pada abad ke-17. Orang-orang puritan (salah satu anggota mazhab Gereja Protestan) melarang perayaan itu di Inggris. Apa penyebab pendirian yang demikian tegas untuk menentang Natal? Dan mengapa dewasa ini terdapat jutaan orang yang merasa bahwa Natal bukan bagi umat kristiani?

Dari Mana Sebenarnya Natal Berasal?

Anda mungkin terkejut bila mempelajari bahwa Natal tidak diajarkan oleh Kristus Yesus maupun dirayakan olehnya atau para muridnya di abad pertama. Kenyataannya, tidak ada catatan tentang perayaan Natal sampai 300 tahun setelah Kristus wafat.

Kebanyakan orang yang hidup di zaman itu menyembah matahari, karena mereka merasakan ketergantungan yang kuat pada siklus tahunannya. Berbagai upacara yang terinci menyertai ibadat kepada matahari di Eropa, Mesir, dan Persia. Tema pokok perayaan-perayaan ini adalah kembalinya terang. Matahari, karena tampak lemah selama musim dingin, dimohon untuk kembali dari ’perjalanan jauh’. Perayaan-perayaan itu meliputi pesta pora, makan-makan, dansa-dansi, mendandani rumah dengan aneka lampu dan hiasan serta saling memberi hadiah. Apakah kegiatan-kegiatan ini kelihatannya sudah umum?

Jumat, 15 November 2013

ALLAH atau Elohim

Apa pun yang disembah dapat disebut allah atau dewa, karena si penyembah mengakuinya sebagai sesuatu yang lebih perkasa daripada dirinya dan ia memujanya. Seseorang bahkan dapat menjadikan perutnya sebagai allah. (Rm 16:18; Flp 3:18, 19) Alkitab menyebutkan bahwa ada banyak allah (Mz 86:8; 1Kor 8:5, 6), tetapi memperlihatkan bahwa allah-allah berbagai bangsa tidak ada nilainya.—Mz 96:5; lihat DEWA DAN DEWI.

Kata-Kata Ibrani. Kata Ibrani yang diterjemahkan ”Allah” antara lain ialah ʼEl, yang mungkin berarti ”Yang Perkasa; Yang Kuat”. (Kej 14:18) Kata itu digunakan untuk memaksudkan Yehuwa, allah-allah lain, dan manusia. Kata itu juga digunakan secara luas sebagai bagian dari nama pribadi, seperti Elisa (yang berarti ”Allah Adalah Keselamatan”) dan Mikhael (”Siapa Seperti Allah?”). Di beberapa ayat, ʼEl muncul dengan kata sandang tentu (ha·ʼEl, harfiah, ”Allah” [bhs. Ing., the God]) untuk memaksudkan Yehuwa, dengan demikian membedakan Dia dari allah-allah lain.—Kej 46:3; 2Sam 22:31; lihat Rbi8, Apendiks 1F dan 1G.

Dalam nubuat di Yesaya 9:6, Yesus Kristus disebut sebagai ʼEl Gib·bohr, ”Allah yang Perkasa” (bukan ʼEl Syad·dai [Allah Yang Mahakuasa], yang ditujukan kepada Yehuwa di Kejadian 17:1).

Yesus


 
Nama dan gelar Putra Allah setelah ia diurapi sewaktu berada di bumi.
Nama Yesus (Yn., I·e·sous) sama dengan nama Ibrani Yesyua (atau, bentuk yang lebih lengkapnya, Yehosyua), yang artinya ”Yehuwa Adalah Keselamatan”. Nama itu sendiri tidak istimewa, karena pada masa itu banyak orang memiliki nama tersebut. Itulah sebabnya, sering kali ada penambahan keterangan seperti ”Yesus, orang Nazaret”. (Mrk 10:47; Kis 2:22) Kristus berasal dari kata Yunani Khri·stos, padanan kata Ibrani Ma·syiakh (Mesias), yang artinya ”Orang yang Diurapi”. Sekalipun ungkapan ”orang yang diurapi” cocok untuk diterapkan pada orang-orang sebelum Yesus, seperti Musa, Harun, dan Daud (Ibr 11:24-26; Im 4:3; 8:12; 2Sam 22:51), kedudukan, jabatan, atau dinas yang mereka pegang setelah diurapi hanyalah gambaran pendahuluan dari kedudukan, jabatan, dan dinas yang lebih unggul yang dimiliki Yesus Kristus. Oleh karena itu, dalam arti yang paling unggul dan unik Yesus adalah ”Kristus, Putra dari Allah yang hidup”.—Mat 16:16; lihat KRISTUS; MESIAS.

YEHUWA



 

[bentuk kausatif imperfek dari kata kerja Ibr., ha·wah′ (menjadi); artinya ”Ia Menyebabkan Menjadi”].


Nama pribadi Allah. (Yes 42:8; 54:5) Meskipun dalam Alkitab Allah disebut dengan berbagai gelar deskriptif, misalnya ”Allah”, ”Tuan Yang Berdaulat”, ”Pencipta”, ”Bapak”, ”Yang Mahakuasa”, dan ”Yang Mahatinggi”, kepribadian serta sifat-sifat-Nya—siapa dan apa sebenarnya Dia—sepenuhnya terangkum dan dinyatakan dalam nama pribadi ini saja.—Mz 83:18.

Gehena


 
[bentuk Yn. dari kata Ibr. Geh Hin·nom, ”Lembah Hinom”].

Nama ini muncul 12 kali dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen, dan meskipun banyak penerjemah mengalihbahasakannya secara bebas dengan kata ”neraka”, sejumlah terjemahan modern mentransliterasi kata tersebut dari kata Yunani geen·na.—Mat 5:22, Ro, Mo, ED, NW, BC (Spanyol), NC (Spanyol), juga catatan kaki Da dan RS.



Lembah Hinom yang dalam dan sempit, yang belakangan dikenal dengan nama Yunani ini, terletak di sebelah selatan dan barat daya Yerusalem kuno dan sekarang adalah Wadi er-Rababi (Ge Ben Hinnom). (Yos 15:8; 18:16; Yer 19:2, 6; lihat HINOM, LEMBAH.) Raja Ahaz dan Raja Manasye dari Yehuda melakukan penyembahan berhala di sana, yang mencakup pembakaran manusia sebagai korban kepada Baal. (2Taw 28:1, 3; 33:1, 6; Yer 7:31, 32; 32:35) Belakangan, agar kegiatan semacam itu tidak lagi dilakukan di sana, Raja Yosia yang setia menajiskan tempat penyembahan berhala tersebut, khususnya bagian yang disebut Tofet.—2Raj 23:10.

Bukan Lambang Siksaan Abadi. Yesus Kristus menghubungkan api dengan Gehena (Mat 5:22; 18:9; Mrk 9:47, 48), sebagaimana dilakukan Yakobus, sang murid, satu-satunya penulis Alkitab yang menggunakan kata itu selain Matius, Markus, serta Lukas. (Yak 3:6) Beberapa komentator berupaya mengaitkan api, yang merupakan karakteristik Gehena, dengan pembakaran korban-korban manusia yang dilakukan sebelum pemerintahan Yosia dan, atas dasar itu, berpendapat bahwa Gehena digunakan oleh Yesus sebagai lambang siksaan abadi. Namun, mengingat Allah Yehuwa menyatakan perasaan jijik terhadap praktek semacam itu, dengan mengatakan bahwa itu adalah ”suatu hal yang tidak pernah kuperintahkan dan yang tidak pernah muncul dalam hatiku” (Yer 7:31; 32:35), sangatlah mustahil jika Putra Allah, sewaktu membahas penghakiman ilahi, menjadikan praktek penyembahan berhala semacam itu sebagai dasar untuk makna simbolis Gehena. Patut diperhatikan bahwa melalui nubuat, Allah menetapkan Lembah Hinom sebagai tempat pembuangan mayat secara massal, bukan tempat penyiksaan para korban yang masih hidup. (Yer 7:32, 33; 19:2, 6, 7, 10, 11) Jadi, secara umum diakui bahwa ”lembah tempat bangkai-bangkai dan abu yang berlemak” yang disebutkan di Yeremia 31:40 memaksudkan Lembah Hinom, dan gerbang yang dikenal sebagai ”Gerbang Tumpukan-abu” tampaknya menghadap ke ujung timur lembah itu pada sambungannya dengan jurang Kidron.—Neh 3:13, 14.
Oleh karena itu, bukti Alkitab tentang Gehena pada umumnya sejajar dengan pandangan turun-temurun para rabi dan sumber-sumber lain. Menurut pandangan itu, Lembah Hinom digunakan sebagai tempat pembuangan limbah kota Yerusalem. (Di Mat 5:30, Ph menerjemahkan geen·na sebagai ”tumpukan sampah”.) Mengenai ”Gehinom”, komentator Yahudi bernama David Kimhi (1160?-1235?), dalam komentarnya atas Mazmur 27:13, memberikan informasi historis berikut, ”Dan ini adalah tempat di negeri itu yang berdekatan dengan Yerusalem, dan tempat ini sangat menjijikkan, dan mereka membuang ke sana hal-hal najis serta bangkai-bangkai. Selain itu, di sana ada api yang tak kunjung padam untuk membakar hal-hal najis dan tulang bangkai-bangkai. Oleh karena itu, secara simbolis, penghukuman atas orang fasik disebut Gehinom.”